Definisi: Penyakit kulit inflamasi kronis, residif, dengan pruritus hebat, yang berhubungan dengan atopi (kecenderungan genetik untuk mengembangkan alergi).
Etiologi & Faktor Risiko:
Patofisiologi: Interaksi kompleks antara disfungsi barier kulit, disregulasi imun (terutama sel Th2), dan faktor lingkungan. Kerusakan barier kulit mempermudah penetrasi alergen dan iritan, memicu respon inflamasi.
Manifestasi Klinis:
Penegakan Diagnosis: Klinis, berdasarkan kriteria Hanifin & Rajka (Kriteria Mayor: Pruritus, Morfologi dan lokasi khas, Dermatitis kronis/residif, Riwayat atopi; Kriteria Minor: Xerosis, Iktiosis, Peningkatan IgE serum, dll.).
Tatalaksana:
Definisi: Penyakit kulit inflamasi kronis, residif, yang mempengaruhi area kaya kelenjar sebasea (berminyak) seperti kulit kepala, wajah, dan dada.
Etiologi & Faktor Risiko:
Patofisiologi: Respon inflamasi terhadap kolonisasi dan produk metabolisme jamur Malassezia spp. di kulit yang kaya sebum, yang mengganggu barier kulit dan memicu kaskade inflamasi.
Manifestasi Klinis:
Penegakan Diagnosis: Klinis, berdasarkan gambaran lesi dan lokasi khas.
Tatalaksana:
Definisi: Inflamasi kulit yang terjadi akibat kontak langsung dengan zat eksogen (iritan atau alergen).
Klasifikasi:
Etiologi & Faktor Risiko:
Patofisiologi:
Manifestasi Klinis:
Perbedaan Klinis DKI vs DKA:
| Fitur | Dermatitis Kontak Iritan (DKI) | Dermatitis Kontak Alergi (DKA) |
| Mekanisme | Non-imunologis, kerusakan langsung | Imunologis, hipersensitivitas tipe IV |
| Onset | Cepat (menit-jam) | Lambat (24-48 jam setelah paparan ulang) |
| Gejala Dominan | Nyeri, rasa terbakar | Gatal |
| Batas Lesi | Sering tegas, sesuai area kontak | Bisa menyebar, batas kurang tegas |
| Riwayat Paparan | Bisa pada paparan pertama | Membutuhkan sensitisasi sebelumnya |
| Individu | Hampir semua orang bisa terkena | Hanya individu yang tersensitisasi |
Penegakan Diagnosis:
Tatalaksana:
| Fitur | Dermatitis Atopik | Dermatitis Seboroik | Dermatitis Kontak Iritan | Dermatitis Kontak Alergi |
| Etiologi Utama | Genetik, disfungsi barier, imun (Th2) | Malassezia spp., sebum, imunosupresi | Zat iritan (kimia, fisik) | Alergen (nikel, karet, kosmetik) |
| Lokasi Khas | Fleksor, wajah (bayi), tangan, kaki | Area seboroik (kulit kepala, wajah, dada) | Area kontak langsung dengan iritan | Area kontak dengan alergen, bisa menyebar |
| Morfologi Khas | Pruritus, xerosis, likenifikasi (kronis), vesikel (akut) | Skuama berminyak kekuningan, eritema | Eritema, vesikel, bula, nyeri | Eritema, vesikel, bula, gatal |
| Gatal | Sangat dominan, kardinal | Bervariasi, sering ada | Nyeri & rasa terbakar lebih dominan | Sangat dominan |
| Patofisiologi | Disfungsi barier + disregulasi imun (Th2) | Respon inflamasi terhadap Malassezia | Kerusakan langsung barier kulit | Hipersensitivitas tipe IV |
| Uji Penunjang | Klinis (Hanifin & Rajka) | Klinis | Klinis, riwayat paparan | Patch test (uji tempel) |
| Tatalaksana Kunci | Pelembap, KS topikal, TCI | Antijamur topikal, KS topikal | Hindari iritan, KS topikal | Hindari alergen, KS topikal |

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi