Dengue: Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue

Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah infeksi arbovirus yang sangat umum di Indonesia, seringkali menimbulkan kepanikan karena spektrum klinisnya yang luas dan potensi komplikasi fatal. Memahami patofisiologi, klasifikasi, serta tanda bahaya Dengue adalah kunci untuk diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat. Di concept page ini, kita akan mengupas tuntas seluk-beluk Dengue agar Anda siap menghadapi kasusnya di praktik klinis dan UKMPPD. Jangan sampai salah langkah, yuk pelajari selengkapnya!

Definisi

Dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue (DENV), ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini memiliki spektrum klinis yang luas, mulai dari asimptomatik, demam ringan tanpa komplikasi (Demam Dengue), hingga penyakit berat yang mengancam jiwa (Demam Dengue Berat).

Etiologi dan Epidemiologi

Penyebab Dengue adalah virus Dengue (DENV), suatu arbovirus RNA dari famili Flaviviridae, genus Flavivirus. Terdapat empat serotipe DENV yang berbeda secara antigenik namun memiliki virulensi serupa:

  • DENV-1
  • DENV-2
  • DENV-3
  • DENV-4

Infeksi dengan satu serotipe memberikan imunitas seumur hidup terhadap serotipe tersebut, namun tidak terhadap serotipe lainnya. Infeksi sekunder dengan serotipe berbeda seringkali meningkatkan risiko terjadinya Dengue berat. Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor utama, sementara Aedes albopictus juga berperan sebagai vektor sekunder. Keduanya aktif menggigit di siang hari.

Patofisiologi

Setelah gigitan nyamuk terinfeksi, virus akan bereplikasi di sel dendritik dan makrofag. Patofisiologi Dengue melibatkan beberapa mekanisme kompleks:

  • Respons Imun Host: Infeksi primer memicu respons imun yang menghasilkan antibodi netralisasi. Namun, pada infeksi sekunder dengan serotipe berbeda, antibodi heterolog yang telah ada dapat memicu Antibody-Dependent Enhancement (ADE), di mana kompleks virus-antibodi justru memfasilitasi masuknya virus ke dalam sel monosit/makrofag, meningkatkan replikasi virus.
  • Aktivasi Sel Endotel: Replikasi virus dan respons imun menyebabkan aktivasi sel endotel vaskular. Pelepasan mediator inflamasi (sitokin, kemokin, histamin, bradikinin) meningkatkan permeabilitas kapiler.
  • Kebocoran Plasma: Peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan kebocoran plasma dari intravaskular ke ruang ekstravaskular (misalnya pleura, peritoneum). Ini adalah ciri khas Dengue berat dan penyebab utama terjadinya syok.
  • Disregulasi Koagulasi: Dapat terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit) dan disfungsi trombosit, serta gangguan faktor koagulasi, meningkatkan risiko perdarahan.

Klasifikasi Dengue (WHO 2009)

Klasifikasi ini penting untuk memandu tatalaksana dan memprediksi prognosis:

KategoriKriteria
Dengue Tanpa Tanda Bahaya

Tinggal di/bepergian ke daerah endemik Dengue, demam dan 2 atau lebih gejala berikut:

  • Mual/Muntah
  • Ruam
  • Nyeri otot/sendi
  • Nyeri retro-orbital
  • Leukopenia
  • Uji torniket positif
Dengue Dengan Tanda Bahaya

Dengue (dengan atau tanpa syok) ditambah satu atau lebih dari tanda bahaya berikut:

  • Nyeri perut hebat atau nyeri tekan abdomen
  • Muntah persisten
  • Akumulasi cairan (asites, efusi pleura)
  • Perdarahan mukosa
  • Letargi/gelisah
  • Pembesaran hepar >2 cm
  • Peningkatan hematokrit (Ht) bersamaan dengan penurunan trombosit yang cepat
Dengue Berat

Dengue ditambah satu atau lebih dari kriteria berikut:

  • Kebocoran plasma berat yang menyebabkan syok (DSS) atau akumulasi cairan dengan distres pernapasan.
  • Perdarahan berat (dinilai oleh klinisi).
  • Keterlibatan organ berat:
      - Gangguan hepar (AST/ALT ≥1000 U/L)
      - Gangguan SSP (penurunan kesadaran, kejang)
      - Gangguan jantung atau organ lain.

Manifestasi Klinis

Perjalanan penyakit Dengue biasanya dibagi menjadi tiga fase:

  1. Fase Febris (Hari 1-3):

    Demam tinggi mendadak (39-40°C), nyeri kepala, nyeri retro-orbital, mialgia, artralgia, mual, muntah. Dapat ditemukan ruam makulopapular (rash) dan uji torniket positif. Pada fase ini sulit dibedakan dengan infeksi virus lain.

  2. Fase Kritis (Hari 3-7):

    Suhu tubuh mulai turun (fase defervesensi). Ini adalah fase paling berbahaya karena dapat terjadi kebocoran plasma dan perdarahan. Tanda bahaya (warning signs) harus diwaspadai:

    • Nyeri perut hebat, muntah persisten.
    • Akumulasi cairan (efusi pleura, asites).
    • Perdarahan mukosa (epistaksis, perdarahan gusi).
    • Letargi atau gelisah.
    • Pembesaran hepar >2 cm.
    • Peningkatan hematokrit bersamaan dengan penurunan trombosit yang cepat.

    Jika terjadi kebocoran plasma berat, pasien dapat mengalami syok (DSS).

  3. Fase Penyembuhan (Hari 7-10):

    Terjadi reabsorpsi cairan ekstravaskular kembali ke intravaskular. Kondisi umum pasien membaik, diuresis meningkat. Ruam konvalesen (isles of white in a sea of red) dapat muncul. Perbaikan trombosit dan stabilisasi hematokrit.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis Dengue ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis: Riwayat demam mendadak, tinggal/bepergian ke daerah endemik, gejala penyerta (nyeri kepala, nyeri otot/sendi, mual/muntah, ruam).
  • Pemeriksaan Fisik: Demam, ruam, hepatomegali, tanda perdarahan (petekie, ekimosis, uji torniket positif), tanda kebocoran plasma (efusi pleura, asites), tanda syok (takikardia, hipotensi, akral dingin).
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Darah Lengkap: Leukopenia (sering), trombositopenia (
    • Serologi:
        - Antigen NS1: Deteksi dini (hari 1-5 demam), sensitif pada fase akut.
        - Antibodi IgM anti-DENV: Terdeteksi mulai hari ke-4/5 demam, menandakan infeksi primer atau sekunder.
        - Antibodi IgG anti-DENV: Terdeteksi mulai hari ke-10/14, meningkat cepat pada infeksi sekunder.
    • PCR (RT-PCR): Deteksi RNA virus, sangat spesifik dan sensitif, terutama pada fase awal.

Diagnosis Banding

Gejala awal Dengue seringkali tidak spesifik, sehingga perlu dibedakan dari penyakit lain:

  • Influenza
  • Campak
  • Rubella
  • Chikungunya
  • Zika
  • Malaria
  • Leptospirosis
  • Demam Tifoid
  • Infeksi bakteri atau virus lainnya

Tatalaksana

Tatalaksana Dengue bersifat suportif dan disesuaikan dengan klasifikasi klinis:

  • Dengue Tanpa Tanda Bahaya:

    Dapat dirawat jalan. Edukasi untuk istirahat cukup, hidrasi oral adekuat (jus buah, oralit, air putih), parasetamol untuk demam (hindari NSAID seperti ibuprofen/aspirin karena risiko perdarahan). Monitor tanda bahaya dan trombosit/hematokrit secara berkala. Kontrol harian hingga fase kritis terlewati.

  • Dengue Dengan Tanda Bahaya:

    Wajib dirawat inap. Monitoring ketat tanda vital, produksi urin, hematokrit, dan trombosit. Pemberian cairan intravena (kristaloid: RL/NaCl 0.9%) dimulai segera dengan dosis rumatan (misal 5-7 ml/kgBB/jam) dan disesuaikan berdasarkan respons klinis dan Ht. Jika Ht meningkat, tingkatkan laju cairan. Transfusi trombosit hanya jika ada perdarahan aktif dan trombosit sangat rendah (

  • Dengue Berat:

    Penanganan di ICU atau HCU. Resusitasi cairan agresif untuk syok (bolus kristaloid 10-20 ml/kgBB dalam 15-30 menit, diulang jika perlu). Jika syok tidak teratasi dengan kristaloid, pertimbangkan koloid. Transfusi PRC jika ada perdarahan berat dan Ht menurun. Koreksi asidosis, gangguan elektrolit, dan gangguan koagulasi. Monitor ketat tanda vital, Ht, trombosit, produksi urin, dan tanda overload cairan.

Komplikasi

Komplikasi yang paling serius dari Dengue adalah:

  • Syok Dengue (Dengue Shock Syndrome/DSS): Akibat kebocoran plasma berat.
  • Perdarahan Berat: Dapat terjadi di saluran cerna, intrakranial, atau organ lain.
  • Gangguan Organ Berat:
      - Hepatitis Dengue (peningkatan transaminase).
      - Miokarditis.
      - Ensefalopati Dengue.
      - Gagal ginjal akut.
  • Overload Cairan: Akibat resusitasi cairan yang berlebihan, dapat menyebabkan edema paru dan gagal jantung.

Pencegahan

Pencegahan Dengue berfokus pada pengendalian vektor:

  • Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus:
      - Menguras tempat penampungan air.
      - Menutup tempat penampungan air.
      - Mendaur ulang barang bekas.
      - Plus: Menabur larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan kelambu, memakai losion anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk.
  • Fogging (Pengasapan): Hanya efektif membunuh nyamuk dewasa dan dilakukan di area dengan kasus Dengue terkonfirmasi.
  • Vaksin Dengue: Saat ini sudah tersedia vaksin Dengue (misalnya Dengvaxia, Qdenga) yang direkomendasikan untuk kelompok usia tertentu, terutama di daerah endemik, dengan indikasi dan kontraindikasi yang spesifik.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds