Demam Reumatik Akut (DRA) & Penyakit Jantung Reumatik (PJR)

Pernahkah kamu mendengar tentang penyakit yang bermula dari sakit tenggorokan biasa tapi bisa berujung pada kerusakan jantung permanen? Ya, itulah Demam Reumatik Akut (DRA) dan Penyakit Jantung Reumatik (PJR)! Kondisi ini seringkali menjadi momok di negara berkembang dan penting banget untuk dikuasai demi UKMPPD. Yuk, pahami seluk-beluknya, mulai dari kriteria diagnosis hingga tatalaksana esensial, agar kamu siap menghadapi kasusnya!

Definisi

Demam Reumatik Akut (DRA) adalah suatu kondisi peradangan autoimun sistemik yang terjadi sebagai komplikasi non-supuratif setelah infeksi faring oleh Streptococcus pyogenes (Streptokokus Grup A Beta-Hemolitik/SGA). Kondisi ini dapat mengenai jantung, sendi, otak, dan kulit.

Penyakit Jantung Reumatik (PJR) adalah sekuel kronis dari DRA yang ditandai oleh kerusakan katup jantung permanen, paling sering katup mitral dan aorta, akibat inflamasi berulang atau persisten.

Etiologi & Patofisiologi

DRA terjadi setelah infeksi faring oleh Streptokokus Grup A (SGA). Penting diingat, infeksi kulit oleh SGA umumnya tidak menyebabkan DRA. Mekanisme utamanya adalah mimikri molekuler, di mana sistem imun tubuh bereaksi terhadap antigen SGA (terutama protein M) yang memiliki kemiripan struktur dengan antigen pada jaringan tubuh sendiri (jantung, sendi, otak, kulit).

Reaksi silang ini memicu respons autoimun yang menyebabkan peradangan. Pada jantung, inflamasi (pankarditis) dapat menyebabkan kerusakan pada endokardium (terutama katup), miokardium, dan perikardium. Kerusakan katup yang berulang atau persisten inilah yang akhirnya berkembang menjadi PJR.

Manifestasi Klinis (Kriteria Jones Revisi)

Diagnosis DRA ditegakkan berdasarkan Kriteria Jones Revisi, yang memerlukan bukti infeksi SGA sebelumnya ditambah kriteria mayor dan/atau minor. Bukti infeksi SGA meliputi: kultur tenggorok positif, tes antigen cepat positif, atau peningkatan titer antibodi streptokokus (misalnya, ASO titer).

  • Kriteria Mayor:
    • Karditis: Paling serius, dapat berupa pankarditis (endokarditis, miokarditis, perikarditis). Manifestasi: murmur baru atau perubahan murmur, kardiomegali, gagal jantung kongestif.
    • Poliartritis Migrans: Inflamasi sendi besar yang berpindah-pindah (misalnya lutut, siku, pergelangan kaki). Sangat responsif terhadap salisilat.
    • Korea Sydenham: Gerakan involunter, tidak teratur, tanpa tujuan, dan kelemahan otot. Dapat muncul lambat (minggu hingga bulan setelah infeksi).
    • Eritema Marginatum: Ruam kemerahan, tidak gatal, dengan tepi bergelombang dan pucat di tengah, terutama pada batang tubuh dan proksimal ekstremitas.
    • Nodul Subkutan: Nodul kecil, tidak nyeri, mobil, terletak di atas tonjolan tulang atau tendon. Jarang ditemukan.
  • Kriteria Minor:
    • Artralgia: Nyeri sendi tanpa tanda inflamasi objektif.
    • Demam: Suhu ≥ 38 °C.
    • Reaktan Fase Akut: Peningkatan Laju Endap Darah (LED) atau C-Reactive Protein (CRP).
    • Interval PR Memanjang: Pada elektrokardiogram (EKG).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis DRA memerlukan:

  • Bukti infeksi SGA sebelumnya DITAMBAH
  • Dua kriteria mayor ATAU
  • Satu kriteria mayor dan dua kriteria minor.

Pengecualian: Korea Sydenham atau karditis indolent dapat didiagnosis sebagai DRA tanpa kriteria tambahan jika ada bukti infeksi SGA sebelumnya, karena manifestasi ini sering muncul terlambat dan berdiri sendiri.

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium:
    • ASO Titer: Peningkatan atau titer yang stabil tinggi mengindikasikan infeksi SGA sebelumnya.
    • LED & CRP: Meningkat, menunjukkan inflamasi akut.
    • Kultur Tenggorok/Rapid Antigen Test: Untuk mendeteksi keberadaan SGA, meskipun seringkali negatif saat onset DRA.
    • Darah Lengkap: Leukositosis.
  • Elektrokardiogram (EKG): Dapat menunjukkan interval PR memanjang (blok AV derajat 1), takikardia, atau tanda-tanda perikarditis.
  • Ekokardiografi (Eko): Sangat penting untuk mendeteksi karditis, menilai fungsi katup (regurgitasi, stenosis), dan fungsi ventrikel.
  • Rontgen Toraks: Dapat menunjukkan kardiomegali atau tanda-tanda gagal jantung.

Diagnosis Banding

Manifestasi UtamaDiagnosis Banding
PoliartritisArtritis Reaktif, Artritis Septik, Artritis Idiopatik Juvenil, Lupus Eritematosus Sistemik, Penyakit Lyme
KarditisMiokarditis Viral, Endokarditis Infektif, Perikarditis
KoreaSindrom Tourette, Efek Samping Obat (mis. antipsikotik), Lupus Eritematosus Sistemik, Penyakit Huntington
DemamInfeksi Viral/Bakteri Lain, Leukemia

Tatalaksana Demam Reumatik Akut (DRA)

Tujuan tatalaksana adalah eradikasi SGA, supresi inflamasi, dan manajemen komplikasi.

  • Eradikasi Streptococcus:
    • Penicillin G Benzathine: 1,2 juta unit IM dosis tunggal (untuk >27 kg) atau 600.000 unit IM dosis tunggal (untuk ≤27 kg).
    • Alternatif (alergi penisilin): Eritromisin atau Azitromisin.
  • Anti-inflamasi:
    • Aspirin: Dosis tinggi (60-100 mg/kgBB/hari dalam 4-5 dosis terbagi) untuk poliartritis dan karditis ringan tanpa kardiomegali atau gagal jantung.
    • Kortikosteroid (Prednison): Dosis 1-2 mg/kgBB/hari (maks 60-80 mg/hari) untuk karditis sedang hingga berat (dengan kardiomegali, gagal jantung, atau perikarditis). Tapering setelah perbaikan klinis dan laboratoris.
  • Manajemen Gagal Jantung: Diuretik, Digoksin (hati-hati pada miokarditis), ACE inhibitor.
  • Manajemen Korea Sydenham: Fenobarbital, Haloperidol, Asam Valproat (jika berat).
  • Tirah Baring: Penting selama fase akut, terutama pada karditis.

Tatalaksana Penyakit Jantung Reumatik (PJR)

Fokus utama pada PJR adalah pencegahan sekunder dan manajemen komplikasi katup.

  • Pencegahan Sekunder: Pemberian antibiotik jangka panjang untuk mencegah episode DRA berulang dan progresivitas PJR.
    • Penicillin G Benzathine: 1,2 juta unit IM setiap 3-4 minggu.
    • Durasi profilaksis bervariasi tergantung keparahan PJR dan usia pasien:
      • DRA tanpa karditis: Sampai usia 21 tahun atau minimal 5 tahun sejak episode terakhir (mana yang lebih lama).
      • DRA dengan karditis tanpa PJR sisa: Sampai usia 21 tahun atau minimal 10 tahun sejak episode terakhir (mana yang lebih lama).
      • DRA dengan PJR sisa (kerusakan katup permanen): Sampai usia 40 tahun atau seumur hidup.
  • Manajemen Penyakit Katup Jantung: Tergantung jenis dan keparahan kerusakan katup (stenosis/regurgitasi). Dapat berupa medikamentosa (diuretik, beta-blocker, antikoagulan) atau intervensi bedah (valvuloplasti, penggantian katup).

Pencegahan

  • Pencegahan Primer:
    • Diagnosis dan tatalaksana dini serta adekuat infeksi faring SGA dengan antibiotik (misalnya Penicillin) untuk mencegah DRA.
    • Edukasi masyarakat tentang pentingnya berobat jika ada sakit tenggorokan.
  • Pencegahan Sekunder:
    • Pemberian profilaksis antibiotik jangka panjang (seperti Penicillin G Benzathine) kepada pasien yang sudah pernah mengalami DRA atau memiliki PJR, untuk mencegah episode DRA berulang.
    • Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya kepatuhan terhadap jadwal profilaksis.

Referensi

Customer Support umeds