Demam Reumatik Akut (ARF) adalah suatu kondisi peradangan multisistem yang terjadi sebagai komplikasi non-supuratif dari infeksi saluran napas atas oleh bakteri Streptococcus pyogenes (Grup A Beta-Hemolitik Streptococcus/GABHS) yang tidak diobati secara adekuat.
Sementara itu, Penyakit Jantung Reumatik (RHD) adalah kerusakan permanen pada katup jantung, terutama katup mitral dan aorta, yang merupakan sekuel kronis dari satu atau lebih episode ARF berulang. RHD adalah manifestasi paling serius dari ARF.
Singkatnya, ARF adalah fase akut peradangan, sedangkan RHD adalah kerusakan jantung jangka panjang yang diakibatkan oleh ARF berulang.
| Kriteria | Demam Reumatik Akut (ARF) | Penyakit Jantung Reumatik (RHD) |
| Sifat Penyakit | Penyakit inflamasi akut, reaksi autoimun terhadap infeksi GABHS. Bersifat reversibel pada sebagian besar kasus tanpa komplikasi jantung permanen. | Penyakit kronis, kerusakan katup jantung permanen akibat episode ARF berulang. Bersifat ireversibel. |
| Penyebab Langsung | Infeksi faring oleh Streptococcus pyogenes (GABHS) yang tidak diobati. | Kerusakan katup jantung akibat episode ARF berulang. Bukan infeksi aktif, melainkan sequela. |
| Patogenesis | Reaksi hipersensitivitas tipe II (mimikri molekuler) di mana antibodi yang terbentuk melawan protein M GABHS menyerang jaringan tubuh sendiri (jantung, sendi, otak, kulit). | Proses inflamasi kronis dan fibrosis pada katup jantung yang dipicu oleh episode ARF berulang, menyebabkan penebalan, fusi komisura, dan/atau retraksi korda tendinea. |
| Usia Predominan | Anak-anak usia 5-15 tahun. | Dapat bermanifestasi pada usia berapa pun, seringkali dewasa muda, sebagai akibat dari ARF di masa kecil. |
| Manifestasi Klinis Utama | Berdasarkan Kriteria Jones:
| Gejala gagal jantung (sesak napas, edema), aritmia (AF), emboli sistemik, endokarditis infektif. Gejala muncul bertahun-tahun setelah episode ARF.
|
| Organ Target Utama | Jantung (miokard, perikard, endokard/katup), sendi, otak, kulit. | Katup jantung (terutama mitral dan aorta). |
| Penegakan Diagnosis | Kriteria Jones (Mayor & Minor) + bukti infeksi GABHS sebelumnya (ASTO/Anti-DNase B, kultur tenggorok positif). | Ekokardiografi (menunjukkan kerusakan katup khas RHD), riwayat ARF sebelumnya. |
| Fokus Tatalaksana | Eradikasi GABHS (antibiotik), anti-inflamasi (aspirin, kortikosteroid), tirah baring, profilaksis sekunder. | Manajemen gagal jantung, antikoagulan (jika ada AF/katup prostetik), profilaksis endokarditis, profilaksis sekunder ARF, intervensi bedah katup (valvuloplasti/penggantian katup) jika diperlukan. |
| Prognosis | Baik jika didiagnosis dan diobati dini. Risiko tinggi rekurensi jika profilaksis sekunder tidak ditaati. | Bergantung pada tingkat kerusakan katup. Membutuhkan pemantauan jangka panjang dan dapat memerlukan intervensi bedah. |
| Pencegahan | Pencegahan primer: Pengobatan adekuat faringitis GABHS. Pencegahan sekunder: Profilaksis antibiotik jangka panjang pada pasien dengan riwayat ARF. | Pencegahan ARF berulang melalui profilaksis sekunder. Tidak ada pencegahan langsung untuk RHD setelah kerusakan katup terjadi. |
Salah satu poin terpenting dalam memutus rantai ARF ke RHD adalah profilaksis sekunder. Ini adalah pemberian antibiotik (biasanya Penisilin G Benzatin intramuskular setiap 3-4 minggu) secara teratur pada pasien yang sudah pernah mengalami ARF, terutama yang disertai karditis. Tujuannya adalah mencegah episode ARF berulang yang dapat memperparah kerusakan katup jantung.
Durasi profilaksis bervariasi tergantung usia dan ada tidaknya karditis, bisa sampai usia 21 tahun, 40 tahun, atau seumur hidup pada kasus tertentu.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi