Delirium dan Demensia: Gangguan Kognitif Akut vs. Kronis

Bingung membedakan antara pasien yang tiba-tiba linglung dengan yang pikun menahun? Delirium dan Demensia adalah dua kondisi gangguan kognitif yang sering membingungkan, padahal penanganannya sangat berbeda! Memahami perbedaannya krusial untuk diagnosis dan tatalaksana yang tepat, serta sangat sering keluar di UKMPPD, loh. Yuk, kuasai konsep dasarnya di sini!

Definisi

Delirium adalah sindrom gangguan kesadaran akut yang fluktuatif, disertai perubahan kognitif yang terjadi dalam waktu singkat dan cenderung berfluktuasi sepanjang hari.

Demensia adalah sindrom penurunan fungsi kognitif yang progresif dan menetap, yang cukup parah hingga mengganggu aktivitas hidup sehari-hari. Kondisi ini bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan.

Etiologi & Faktor Risiko

  • Delirium:

    Penyebabnya multifaktorial dan seringkali reversibel jika penyebab dasar diatasi. Contohnya:

    • Infeksi: Infeksi Saluran Kemih (ISK), pneumonia, sepsis.
    • Obat-obatan: Antikolinergik, opioid, benzodiazepin, polifarmasi.
    • Withdrawal: Alkohol, benzodiazepin.
    • Gangguan Metabolik: Gangguan elektrolit (hipo/hipernatremia), hipoglikemia, uremia, hipoksia.
    • Kondisi Medis Lain: Nyeri tidak terkontrol, pasca-operasi, dehidrasi, stroke, gagal jantung/ginjal/hati.
  • Demensia:

    Penyebabnya bervariasi, seringkali ireversibel dan progresif. Contohnya:

    • Degeneratif: Penyakit Alzheimer (paling umum), demensia vaskular, demensia dengan badan Lewy, demensia frontotemporal.
    • Trauma: Cedera kepala berulang (misalnya CTE).
    • Infeksi: HIV, sifilis (neurosyphilis), penyakit Creutzfeldt-Jakob.
    • Defisiensi Nutrisi: Defisiensi vitamin B12, folat.
    • Kondisi Lain: Hidrosefalus normotensif, hipotiroidisme, tumor otak.

Patofisiologi (Ringkas)

Delirium: Melibatkan disregulasi neurotransmiter (terutama defisiensi asetilkolin dan kelebihan dopamin) serta gangguan pada jaringan saraf difus akibat stresor akut. Terjadi kegagalan integrasi informasi dari berbagai area otak.

Demensia: Umumnya disebabkan oleh kerusakan neuronal progresif dan kematian sel otak. Pada Alzheimer, terjadi akumulasi protein amiloid beta dan protein tau. Demensia vaskular melibatkan kerusakan otak akibat iskemia kronis atau infark multipel.

Manifestasi Klinis (Perbandingan)

KriteriaDeliriumDemensia
OnsetAkut (jam hingga hari)Insidious/perlahan (bulan hingga tahun)
Perjalanan PenyakitFluktuatif (membaik/memburuk dalam sehari)Progresif, relatif stabil dalam sehari
DurasiPendek (hari hingga minggu), sering reversibelPanjang (bulan hingga tahun), umumnya ireversibel
KesadaranTerganggu (berubah-ubah, bisa hiperalert/hipoalert)Jernih, tidak terganggu hingga stadium lanjut
PerhatianSangat terganggu, sulit fokus dan mempertahankan perhatianTerganggu di stadium lanjut, relatif intak di awal
OrientasiSering terganggu (waktu, tempat, orang)Terganggu di stadium lanjut, intak di awal
MemoriGangguan memori jangka pendek dan baruGangguan memori jangka pendek dan baru, kemudian jangka panjang
BahasaBisa terganggu (inkohere, disartria, anomia)Mencari kata, anomia di awal; afasia di lanjut
PersepsiSering halusinasi (visual) atau ilusiJarang halusinasi di awal, bisa di lanjut (Lewy body)
PsikomotorBisa hiperaktif (agitasi) atau hipoaktif (letargi)Normal atau bradikinesia
MoodLabil, cemas, takut, iritabelDepresi, apati, iritabel
PrognosisSering reversibel jika penyebab diatasiProgresif dan ireversibel

Penegakan Diagnosis

Delirium:

  • Anamnesis: Riwayat onset akut, fluktuasi gejala, dan adanya kondisi medis/obat-obatan yang mendasari.
  • Pemeriksaan Fisik: Mencari tanda-tanda penyebab dasar.
  • Pemeriksaan Status Mental: Menggunakan instrumen seperti Confusion Assessment Method (CAM) yang menilai: 1) Onset akut dan fluktuatif, 2) Inattention, 3) Disorganized thinking, dan 4) Altered level of consciousness. Delirium positif jika ada 1+2 dan (3 atau 4).

Demensia:

  • Anamnesis: Penurunan fungsi kognitif yang progresif dan menetap selama minimal 6 bulan, mengganggu aktivitas sehari-hari. Mendapat informasi dari pasien dan informan (keluarga/caregiver).
  • Pemeriksaan Status Mental: Menggunakan instrumen skrining seperti Mini-Mental State Examination (MMSE) atau Montreal Cognitive Assessment (MoCA).
  • Penting untuk menyingkirkan penyebab demensia yang reversibel.

Pemeriksaan Penunjang

Delirium: Dilakukan untuk mencari penyebab dasar yang dapat diobati.

  • Laboratorium Darah: Darah lengkap, elektrolit, fungsi ginjal/hati, glukosa darah sewaktu, analisis gas darah, urinalisis, kultur darah/urin (jika dicurigai infeksi).
  • EKG: Untuk menilai aritmia atau iskemia jantung.
  • Pencitraan Otak (CT Scan/MRI Kepala): Jika dicurigai lesi struktural (stroke, tumor, perdarahan).
  • Pungsi Lumbal: Jika dicurigai infeksi SSP (meningitis, ensefalitis).

Demensia: Dilakukan untuk menyingkirkan penyebab reversibel atau mengidentifikasi jenis demensia.

  • Laboratorium Darah: Vitamin B12, fungsi tiroid (TSH, fT4), tes sifilis (VDRL/TPHA), HIV.
  • Pencitraan Otak (CT Scan/MRI Kepala): Untuk menyingkirkan lesi struktural (tumor, hidrosefalus normotensif, hematoma subdural) dan melihat pola atrofi yang mungkin mengarahkan pada jenis demensia tertentu (mis. atrofi hipokampus pada Alzheimer).

Tatalaksana

Tatalaksana Delirium: Fokus pada identifikasi dan eliminasi penyebab dasar.

  • Non-Farmakologis:
    • Atasi penyebab: Obati infeksi, koreksi elektrolit, hentikan obat penyebab.
    • Dukungan Lingkungan: Ciptakan lingkungan yang tenang, pencahayaan cukup, jam dinding/kalender untuk reorientasi, hindari restriksi fisik.
    • Dukungan Umum: Pastikan hidrasi dan nutrisi adekuat, mobilisasi dini, manajemen nyeri.
  • Farmakologis (jika agitasi berat/membahayakan):
    • Antipsikotik dosis rendah: Haloperidol (0.5-1 mg oral/IM) adalah pilihan utama. Hindari pada pasien Parkinson.
    • Benzodiazepin: Hanya jika delirium disebabkan oleh withdrawal alkohol/benzodiazepin.

Tatalaksana Demensia: Bertujuan untuk mengelola gejala dan memperlambat progresivitas.

  • Non-Farmakologis:
    • Terapi Kognitif: Latihan memori, stimulasi kognitif.
    • Modifikasi Lingkungan: Lingkungan aman, rutin, dukungan caregiver.
    • Manajemen Perilaku: Atasi agitasi, depresi, psikosis dengan terapi non-farmakologis terlebih dahulu.
  • Farmakologis:
    • Penghambat Kolinesterase: Donepezil, Rivastigmin, Galantamin. Digunakan untuk demensia Alzheimer ringan hingga sedang. Meningkatkan ketersediaan asetilkolin di otak.
    • Antagonis NMDA: Memantin. Digunakan untuk demensia Alzheimer sedang hingga berat. Memodulasi aktivitas glutamat.
    • Obat-obatan lain untuk gejala penyerta (antidepresan untuk depresi, antipsikotik untuk psikosis/agitasi jika non-farmakologis gagal).

Komplikasi & Prognosis

Delirium: Peningkatan risiko mortalitas, lama rawat di rumah sakit, dan disabilitas fungsional jangka panjang. Meskipun sering reversibel, dapat meninggalkan defisit kognitif persisten atau mempercepat progresivitas demensia pada pasien yang sudah memiliki demensia sebelumnya.

Demensia: Progresif dan umumnya ireversibel. Komplikasi meliputi peningkatan ketergantungan, risiko jatuh, malnutrisi, infeksi (pneumonia aspirasi, ISK), dan depresi. Prognosis tergantung pada jenis demensia dan ada tidaknya komorbiditas.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds