Delirium

Hai, calon dokter! Pernahkah kamu melihat pasien yang tiba-tiba bingung, sulit fokus, dan perilakunya berubah drastis? Hati-hati, itu bisa jadi delirium, kondisi akut yang sering disalahartikan sebagai demensia atau bahkan 'kesurupan' oleh awam! Delirium adalah kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat karena bisa berakibat fatal jika tidak ditangani. Yuk, pahami seluk-beluk delirium agar kamu siap menghadapinya di praktik nanti!

Definisi

Delirium adalah sindrom neuropsikiatri akut yang ditandai oleh gangguan kesadaran dan kognisi yang terjadi secara tiba-tiba dan berfluktuasi. Ini bukan penyakit, melainkan manifestasi dari kondisi medis lain yang mendasari.

Sering disebut juga sebagai acute confusional state atau acute brain failure.

Etiologi & Faktor Risiko

Delirium memiliki banyak penyebab (multifaktorial) dan seringkali merupakan interaksi antara faktor predisposisi dan presipitasi.

  • Faktor Predisposisi (Kerentanan Pasien):
    • Usia lanjut (>65 tahun)
    • Gangguan kognitif sebelumnya (demensia, stroke)
    • Gangguan sensorik (gangguan penglihatan/pendengaran)
    • Riwayat delirium sebelumnya
    • Penyakit komorbiditas berat (gagal jantung, ginjal, hati)
    • Malnutrisi, dehidrasi
    • Ketergantungan alkohol/obat
  • Faktor Presipitasi (Penyebab Langsung):
    • Infeksi: Sepsis, pneumonia, ISK, meningitis/ensefalitis.
    • Obat-obatan: Antikolinergik, opioid, benzodiazepin, steroid, antidepresan, antihistamin, alkohol/obat rekreasional (intoksikasi/withdrawal).
    • Gangguan Metabolik: Hipoglikemia/hiperglikemia, hipo/hipernatremia, hipo/hiperkalsemia, uremia, ensefalopati hepatikum, hipoksia, hiperkapnia.
    • Neurologis: Stroke, perdarahan intrakranial, tumor otak, kejang pasca-iktal.
    • Kardiovaskular: Infark miokard, gagal jantung kongestif, aritmia.
    • Trauma/Pembedahan: Pasca operasi besar, patah tulang.
    • Lingkungan: Lingkungan asing (ICU), kurang tidur, imobilisasi.

Patofisiologi

Patofisiologi delirium belum sepenuhnya dipahami, namun melibatkan gangguan neurotransmitter dan respons inflamasi.

  • Disregulasi Neurotransmitter:
    • Penurunan aktivitas asetilkolin (sering dikaitkan dengan obat antikolinergik).
    • Peningkatan aktivitas dopamin (sering dikaitkan dengan obat dopaminergik).
    • Gangguan pada serotonin, GABA, dan glutamat juga berperan.
  • Inflamasi dan Stres Oksidatif: Mediator inflamasi (sitokin) dari penyakit sistemik dapat menembus sawar darah otak dan memengaruhi fungsi neuron.
  • Gangguan Integritas Otak: Hipoksia, iskemia, gangguan metabolisme (misalnya hipoglikemia) dapat merusak neuron dan mengganggu sirkuit saraf.

Manifestasi Klinis

Gejala delirium bersifat fluktuatif, memburuk di malam hari, dan sangat bervariasi antar individu.

  • Gangguan Perhatian: Sulit mempertahankan atau mengalihkan perhatian. Ini adalah ciri khas.
  • Gangguan Kognitif Akut:
    • Disorientasi (waktu, tempat, orang).
    • Gangguan memori (terutama memori jangka pendek).
    • Gangguan bahasa (sulit menemukan kata, bicara tidak relevan).
    • Gangguan persepsi (ilusi, halusinasi visual/auditorik).
  • Perubahan Tingkat Kesadaran: Dari letargi hingga agitasi.
  • Gangguan Siklus Tidur-Bangun: Insomnia di malam hari, mengantuk di siang hari, pembalikan siklus tidur.
  • Perubahan Psikomotor:
    • Delirium Hiperaktif: Agitasi, gelisah, halusinasi, delusi, perilaku agresif, sulit tidur.
    • Delirium Hipoaktif: Penarikan diri, apatis, lesu, mengantuk, bicara pelan, kurang responsif (sering terlewatkan).
    • Delirium Campuran: Fluktuasi antara hiperaktif dan hipoaktif.
  • Gangguan Emosional: Cemas, ketakutan, iritabilitas, euforia, depresi.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis delirium adalah diagnosis klinis berdasarkan kriteria diagnostik, seperti DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition).

Alat skrining yang sering digunakan adalah Confusion Assessment Method (CAM). CAM membutuhkan empat fitur untuk diagnosis delirium:

  1. Onset Akut dan Fluktuasi: Perubahan tiba-tiba dari status mental dasar pasien dan berfluktuasi sepanjang hari.
  2. Inatensi: Ketidakmampuan untuk fokus dan mempertahankan perhatian.
  3. Disorganized Thinking: Pemikiran yang tidak terorganisir, tidak logis, atau tidak relevan.
  4. Altered Level of Consciousness: Tingkat kesadaran yang tidak normal (misalnya, sangat waspada, letargi, stupor, koma).

Delirium ditegakkan jika ada fitur 1 DAN 2, DITAMBAH salah satu dari fitur 3 ATAU 4.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang tidak mendiagnosis delirium, tetapi membantu mengidentifikasi etiologi yang mendasari.

  • Laboratorium Darah:
    • Darah lengkap (infeksi, anemia).
    • Elektrolit, glukosa darah, BUN/kreatinin (gangguan ginjal), fungsi hati (gangguan hati).
    • Gas darah (hipoksia, asidosis/alkalosis).
    • Kultur darah/urin (sepsis, ISK).
    • Tingkat obat-obatan (jika dicurigai intoksikasi/withdrawal).
    • Fungsi tiroid (hipo/hipertiroidisme).
  • Pencitraan:
    • CT scan atau MRI kepala (jika dicurigai stroke, perdarahan, tumor, hidrosefalus).
    • X-ray toraks (pneumonia).
  • Lain-lain:
    • EKG (aritmia, infark miokard).
    • Analisis cairan serebrospinal (jika dicurigai meningitis/ensefalitis).
    • EEG (status epileptikus non-konvulsif).

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan delirium dari kondisi lain dengan gejala serupa.

FiturDeliriumDemensiaDepresi
OnsetAkut (jam-hari)Insidious (bulan-tahun)Subakut (minggu-bulan)
PerjalananFluktuatif, memburuk malam hariProgresif, stabilStabil, memburuk pagi hari
KesadaranBerubah (berfluktuasi)Jernih (normal)Jernih (normal)
PerhatianSangat tergangguAwalnya normal, lalu tergangguBisa terganggu (pseudo-demensia)
KognisiGangguan global, sering disorientasiGangguan memori, afasia, apraksia, agnosiaGangguan konsentrasi, pesimisme
HalusinasiSering (visual, auditorik)Jarang (biasanya pada tahap lanjut)Jarang
PsikomotorHiperaktif, hipoaktif, atau campuranSering normal, kadang agitasi/apatisRetardasi atau agitasi
PrognosisPotensi reversibel jika penyebab diatasiProgresif, ireversibelReversibel dengan pengobatan

Tatalaksana

Tatalaksana delirium berfokus pada identifikasi dan penanganan penyebab yang mendasari, serta manajemen gejala.

  • Non-Farmakologis (Pilar Utama):
    • Identifikasi dan Obati Penyebab: Ini adalah langkah terpenting! (Contoh: antibiotik untuk infeksi, koreksi elektrolit, stop obat pemicu).
    • Orientasi dan Reorientasi: Berikan informasi yang jelas tentang waktu, tempat, dan situasi. Libatkan keluarga.
    • Lingkungan yang Mendukung: Ruangan tenang, pencahayaan cukup, jam dinding, kalender, alat bantu dengar/kacamata. Hindari perubahan lingkungan yang drastis.
    • Memastikan Hidrasi dan Nutrisi: Pastikan asupan cairan dan makanan adekuat.
    • Promosi Tidur Normal: Minimalkan gangguan di malam hari, maksimalkan aktivitas di siang hari. Hindari obat tidur rutin.
    • Mobilisasi Dini: Jika memungkinkan, hindari imobilisasi berkepanjangan.
    • Manajemen Nyeri: Pastikan nyeri teratasi dengan baik.
    • Hindari Restrain Fisik: Jika tidak mutlak diperlukan, karena dapat meningkatkan agitasi.
  • Farmakologis (Jika Diperlukan):
    • Hanya diberikan jika agitasi berat membahayakan pasien atau orang lain, atau mengganggu penanganan penyebab.
    • Antipsikotik Dosis Rendah:
      • Haloperidol: Pilihan pertama (0.5-1 mg oral/IV setiap 4-6 jam prn). Hati-hati pada pasien dengan penyakit Parkinson atau perpanjangan QT.
      • Antipsikotik Atipikal: Risperidon (0.25-1 mg oral), Olanzapin (2.5-5 mg oral/IM), Quetiapin (12.5-25 mg oral).
    • Hindari Benzodiazepin: Kecuali jika delirium disebabkan oleh withdrawal alkohol atau benzodiazepin (misalnya, Lorazepam 0.5-1 mg oral/IV). Benzodiazepin dapat memperburuk delirium pada kasus lain.

Komplikasi

Delirium dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

  • Peningkatan mortalitas dan morbiditas.
  • Peningkatan risiko jatuh dan cedera.
  • Peningkatan durasi rawat inap.
  • Penurunan fungsi kognitif jangka panjang (bahkan setelah resolusi delirium).
  • Peningkatan risiko demensia.
  • Stres dan beban psikologis bagi keluarga dan tenaga kesehatan.

Prognosis

Prognosis delirium sangat bervariasi dan tergantung pada penyebab yang mendasari, keparahan, dan kecepatan penanganan.

Sebagian besar kasus delirium dapat sembuh sepenuhnya jika penyebabnya dapat diidentifikasi dan diobati secara efektif.

Namun, pada pasien lanjut usia atau dengan komorbiditas berat, delirium dapat berkepanjangan atau menyebabkan penurunan kognitif permanen.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien dan keluarga sangat penting untuk mengenali tanda-tanda awal dan berpartisipasi dalam perawatan.

Pencegahan meliputi:

  • Identifikasi faktor risiko pada pasien yang rentan.
  • Manajemen nyeri yang adekuat.
  • Memastikan hidrasi dan nutrisi yang cukup.
  • Promosi tidur yang baik.
  • Mobilisasi dini.
  • Manajemen lingkungan yang mendukung.
  • Tinjauan obat-obatan secara berkala untuk menghindari polifarmasi atau obat yang berpotensi memicu delirium.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds