Diabetes tipe-1 ditandai oleh destruksi autoimun sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Karakteristik utamanya adalah:
Onset: Akut, biasanya pada anak-anak dan dewasa muda, meskipun dapat terjadi pada usia berapa pun
Mekanisme: Autoimun—sistem kekebalan tubuh menyerang sel beta pankreas
Presentasi klinis: Sering disertai manifestasi ketosis (asidosis metabolik) karena defisiensi insulin yang mendadak dan berat
Produksi insulin dan C-peptide: Sangat rendah atau tidak terdeteksi, karena sel beta sudah banyak yang rusak
Diabetes tipe-2 adalah bentuk paling umum dari diabetes mellitus. Berbeda dengan tipe-1, diabetes tipe-2 melibatkan resistensi insulin dan penurunan fungsi sel beta yang progresif. Karakteristiknya:
Onset: Lambat dan gradual, biasanya pada orang dewasa paruh baya dan lansia (meskipun prevalensinya meningkat pada anak muda)
Mekanisme: Bukan autoimun; disebabkan oleh kombinasi resistensi insulin dan disfungsi sel beta
Presentasi klinis: Ketosis jarang terjadi karena masih ada produksi insulin yang cukup untuk menghambat lipolisis
Produksi insulin dan C-peptide: Normal hingga tinggi pada tahap awal, karena sel beta masih berfungsi (meskipun tidak cukup untuk mengatasi resistensi insulin)
Diabetes monogenik adalah kelompok penyakit langka yang disebabkan oleh mutasi gen tunggal. Karakteristiknya:
Penyebab genetik: Mutasi pada gen tunggal yang mengontrol fungsi sel beta atau metabolisme glukosa
Onset: Dapat terjadi pada periode neonatal (diabetes neonatal persisten atau transien) atau remaja (MODY—Maturity Onset Diabetes of the Young)
Pola pewarisan: Mengikuti pola genetik Mendelian, biasanya autosomal dominan
Presentasi: Tergantung jenis gen yang bermutasi, tetapi umumnya onset cukup dini dengan riwayat keluarga yang jelas
Beberapa gejala klinis yang umum terjadi pada diabetes mellitus:
Poliuria: Pengeluaran urine yang berlebihan (sering buang air kecil)
Polidipsia: Rasa haus yang berlebihan
Nokturia: Sering buang air kecil pada malam hari
Penurunan berat badan: Terutama pada tipe-1, meskipun dapat juga terjadi pada tipe-2 yang berat
Polifagia: Peningkatan rasa lapar (lebih sering pada tipe-2)
Diagnosis diabetes dapat ditegakkan dengan salah satu dari empat kriteria berikut:
Glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L) dengan gejala klasik diabetes
Ini adalah kriteria yang paling cepat dan praktis ketika gejala jelas
Glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL (7 mmol/L)
Puasa didefinisikan sebagai tidak ada asupan kalori selama minimal 8 jam
Ini adalah pemeriksaan standar dan paling sering digunakan
Glukosa plasma ≥ 200 mg/dL pada 2 jam setelah Oral Glucose Tolerance Test (OGTT)
Pasien diberikan beban glukosa 75 gram per oral, kemudian glukosa darah diukur pada jam ke-2
Pemeriksaan ini lebih sensitif untuk mendeteksi gangguan toleransi glukosa
HbA1c > 6,5% (menggunakan standar NGSP/DCCT)
HbA1c mencerminkan rata-rata glukosa darah selama 2-3 bulan terakhir
Ini adalah pemeriksaan yang tidak memerlukan puasa dan lebih stabil
Untuk melengkapi diagnosis, pemeriksaan berikut dapat dilakukan:
Urine glukosa: Adanya glukosa dalam urine (glikosuria) mendukung diagnosis
Ketonemia/ketonuria: Adanya keton dalam darah atau urine menunjukkan ketosis, lebih spesifik untuk tipe-1 atau diabetes tipe-2 yang tidak terkontrol
Penggunaan klinis insulin:
Evaluasi hipoglikemia: Membantu membedakan hipoglikemia yang disebabkan oleh insulin endogen (tumor penghasil insulin) atau obat
Menilai resistensi insulin: Kadar insulin yang tinggi pada pasien dengan glukosa puasa normal atau sedikit meningkat dapat menunjukkan resistensi insulin
Pemilihan terapi tipe-2: Dapat membantu memutuskan apakah pasien masih memiliki produksi insulin yang cukup atau sudah memerlukan insulin injeksi
Keunggulan C-peptide: C-peptide adalah peptida yang dihasilkan bersama insulin saat sel beta memecah proinsulin menjadi insulin dan C-peptide. Keunggulannya dalam penilaian fungsi sel beta:
Tidak dipengaruhi oleh metabolisme hati: Tidak seperti insulin yang dimetabolisme hati, C-peptide perlu melalui ginjal, sehingga lebih stabil
Tidak dipengaruhi oleh antibodi: Jika pasien sudah menerima insulin eksternal, antibodi anti-insulin tidak akan mengganggu pengukuran C-peptide endogen
Lebih akurat menilai fungsi sel beta: Karena C-peptide berkorelasi lebih langsung dengan produksi insulin endogen
Penggunaan klinis: C-peptide lebih berguna daripada insulin dalam:
Membedakan diabetes tipe-1 (C-peptide rendah) dari tipe-2 (C-peptide normal atau tinggi) pada fase awal
Menilai sisa fungsi sel beta pada pasien tipe-1 yang sudah lama (untuk prognosis)
Evaluasi hipoglikemia dengan riwayat panjang
Ringkasan Kunci
Aspek
Onset
Tipe-1
Autoimun
Tipe-2
Ketosis
Monogenik
Insulin/C-peptide
Kriteria Diagnostik (salah satu):
Glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL dengan gejala
Glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL
Glukosa plasma ≥ 200 mg/dL pada 2 jam OGTT
HbA1c > 6,5%