Creeping Eruption (Larva Migrans Kutaneus)

Pernahkah Anda melihat jejak kemerahan yang gatal dan bergerak di kulit? Itu mungkin bukan sekadar gigitan serangga biasa, melainkan 'Creeping Eruption' atau Larva Migrans Kutaneus! Infeksi parasit ini sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis, terutama bagi mereka yang sering kontak dengan tanah terkontaminasi. Penting banget nih untuk UKMPPD karena manifestasinya yang khas dan tatalaksananya yang spesifik. Yuk, pahami lebih dalam agar tidak salah diagnosis dan tatalaksana!

Definisi

Creeping Eruption atau Larva Migrans Kutaneus (LMK) adalah dermatosis parasitik yang disebabkan oleh invasi dan migrasi larva cacing tambang hewan (biasanya anjing atau kucing) ke dalam kulit manusia. Larva ini tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya di tubuh manusia, sehingga hanya akan bermigrasi secara superfisial di epidermis dan dermis.

Etiologi

Penyebab utama LMK adalah larva cacing tambang hewan, yang paling sering adalah:

  • Ancylostoma braziliense (cacing tambang anjing dan kucing)
  • Ancylostoma caninum (cacing tambang anjing)
  • Spesies lain yang lebih jarang termasuk Uncinaria stenocephala dan Bunostomum phlebotomum.

Larva infektif (filariform) masuk ke kulit melalui folikel rambut, celah kulit, atau langsung menembus stratum korneum.

Faktor Risiko

Beberapa kondisi meningkatkan risiko seseorang terkena Creeping Eruption:

  • Kontak dengan tanah yang terkontaminasi feses hewan, terutama di daerah berpasir seperti pantai, taman, atau area pertanian.
  • Berjalan tanpa alas kaki di area endemik.
  • Pekerjaan yang melibatkan kontak langsung dengan tanah (misalnya petani, tukang kebun).
  • Anak-anak yang sering bermain di tanah.
  • Iklim tropis dan subtropis dengan kelembaban tinggi yang mendukung kelangsungan hidup larva.

Patofisiologi

Larva filariform dari cacing tambang hewan menembus kulit manusia. Karena manusia bukan hospes definitif, larva tidak dapat menembus lamina basalis dan mencapai sirkulasi darah. Larva kemudian bermigrasi secara horizontal di antara stratum basale dan stratum spinosum epidermis, atau di dermis superfisial.

Migrasi larva ini memicu respons imun dan inflamasi lokal, yang bermanifestasi sebagai lesi eritematosa, pruritus, dan jejak khas. Larva biasanya bermigrasi beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter per hari.

Manifestasi Klinis

Gambaran klinis Creeping Eruption sangat khas:

  • Lesi serpiginosa (seperti ular), eritematosa, berbatas tegas, dan menonjol, dengan lebar 2-3 mm.
  • Lesi sering terlihat di area yang terpapar langsung dengan tanah, seperti kaki (terutama telapak kaki), bokong, tangan, atau perut.
  • Pruritus hebat merupakan gejala dominan dan sangat mengganggu, terutama pada malam hari.
  • Lesi dapat bergerak sekitar 2-5 cm per hari.
  • Kadang dapat disertai dengan papul, vesikel, atau bula di sepanjang jejak.
  • Adanya papul pruritik di lokasi penetrasi awal larva (sering disebut 'ground itch' atau 'dew itch'), yang muncul beberapa jam hingga hari setelah paparan.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis Creeping Eruption sebagian besar bersifat klinis, berdasarkan:

  • Anamnesis: Adanya riwayat paparan tanah terkontaminasi (misalnya, berjalan di pantai tanpa alas kaki), riwayat bepergian ke daerah endemik.
  • Pemeriksaan fisik: Penemuan lesi khas serpiginosa, eritematosa, pruritik, yang bergerak.

Pemeriksaan penunjang seperti biopsi kulit jarang diperlukan karena lesi sangat khas dan penemuan larva sangat sulit. Eosinofilia perifer mungkin ditemukan pada kasus yang luas atau persisten.

Tatalaksana

Tatalaksana bertujuan untuk membunuh larva dan meredakan gejala.

Farmakologis:

  • Topikal:
    • Tiabendazol 10-15% krim/salep: Dioleskan 2-3 kali sehari selama 5-7 hari. Efektif untuk lesi yang terlokalisasi.
    • Albendazol krim: Alternatif jika tiabendazol tidak tersedia.
  • Sistemik:
    • Albendazol: Dosis 400 mg dosis tunggal per oral, atau 400 mg sekali sehari selama 3-7 hari untuk kasus yang lebih luas atau resisten. Merupakan pilihan utama karena efikasi tinggi dan efek samping minimal.
    • Ivermectin: Dosis 200 mcg/kg berat badan dosis tunggal per oral. Sangat efektif dan sering menjadi pilihan kedua setelah albendazol, terutama untuk kasus yang luas atau multipel.
    • Tiabendazol: 25 mg/kgBB dua kali sehari selama 2-5 hari. Efektif, namun memiliki efek samping sistemik yang lebih banyak dibandingkan albendazol atau ivermectin.
  • Simptomatik: Antihistamin oral untuk mengurangi pruritus.

Non-Farmakologis:

  • Kompres dingin untuk mengurangi gatal.
  • Hindari menggaruk untuk mencegah infeksi sekunder.

Komplikasi

Meskipun Creeping Eruption umumnya jinak dan sembuh spontan dalam beberapa minggu hingga bulan, komplikasi dapat terjadi:

  • Infeksi bakteri sekunder (impetiginisasi): Akibat garukan yang berlebihan, menyebabkan lesi menjadi pustular atau krustosa.
  • Reaksi alergi: Dapat terjadi pada beberapa individu, menyebabkan urtikaria atau angioedema.
  • Erupsi papular pruritik: Lesi gatal yang lebih luas, kadang-kadang jauh dari jejak utama.
  • Loeffler's syndrome: Jarang, terjadi jika larva mencapai paru-paru, menyebabkan eosinofilia paru dan infiltrat paru transien.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien dan tindakan pencegahan sangat penting untuk menghindari infeksi berulang:

  • Menggunakan alas kaki (sandal atau sepatu) saat berjalan di area yang berpotensi terkontaminasi, seperti pantai, taman, atau kebun.
  • Menghindari kontak langsung kulit dengan tanah yang lembab dan berpasir, terutama di daerah endemik.
  • Menjaga kebersihan hewan peliharaan dan melakukan deworming secara teratur pada anjing dan kucing untuk mengurangi penyebaran telur cacing.
  • Menutup kotak pasir anak-anak saat tidak digunakan untuk mencegah kontaminasi feses hewan.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds