Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Sering merasa kesemutan di jari tangan, terutama saat bangun tidur atau setelah aktivitas berulang? Bisa jadi itu Carpal Tunnel Syndrome, salah satu neuropati kompresi yang paling umum! Kondisi ini seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidur. Jangan sampai salah diagnosis atau terlambat tatalaksana, karena bisa berdampak serius pada fungsi tangan pasien. Yuk, pahami seluk-beluk CTS agar kamu siap menghadapi kasusnya di UKMPPD dan praktik nanti!

Definisi

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah neuropati kompresi saraf medianus yang terjadi di pergelangan tangan, tepatnya di dalam terowongan karpal. Kondisi ini merupakan neuropati kompresi yang paling sering terjadi pada ekstremitas atas.

Etiologi & Faktor Risiko

Penyebab CTS seringkali multifaktorial. Peningkatan tekanan di dalam terowongan karpal dapat disebabkan oleh berbagai kondisi.

  • Aktivitas berulang atau posisi tangan yang canggung (misalnya mengetik, merajut, menggunakan alat berat).
  • Kehamilan (karena retensi cairan).
  • Penyakit sistemik: Diabetes Mellitus, Hipotiroidisme, Akromegali, Rheumatoid Arthritis.
  • Obesitas.
  • Trauma atau fraktur pergelangan tangan sebelumnya.
  • Adanya massa di dalam terowongan karpal (misalnya ganglion, lipoma).

Patofisiologi

Terowongan karpal adalah lorong sempit di pergelangan tangan yang dibentuk oleh tulang-tulang karpal di bagian dasar dan ligamen karpal transversal (fleksor retinakulum) di bagian atap.

Di dalam terowongan ini, terdapat 9 tendon fleksor (4 tendon fleksor digitorum profundus, 4 tendon fleksor digitorum superfisialis, dan 1 tendon fleksor pollicis longus) serta nervus medianus.

Peningkatan volume di dalam terowongan karpal (misalnya karena edema, inflamasi, atau adanya massa) atau penyempitan terowongan itu sendiri akan meningkatkan tekanan intrakarpal.

Peningkatan tekanan ini menyebabkan kompresi pada nervus medianus, yang mengakibatkan:

  • Iskemia: Penurunan aliran darah ke saraf.
  • Demyelinasi: Kerusakan selubung mielin saraf.
  • Degenerasi aksonal: Kerusakan pada akson saraf dalam kasus yang parah dan kronis.

Akibatnya, terjadi gangguan konduksi saraf yang bermanifestasi sebagai gejala sensorik dan motorik.

Manifestasi Klinis

Gejala CTS umumnya berkembang secara bertahap dan seringkali memburuk di malam hari.

  • Gejala Sensorik:
    • Parestesia (kesemutan, baal, mati rasa) pada area distribusi nervus medianus: ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan sisi radial jari manis.
    • Nyeri yang menjalar dari pergelangan tangan ke lengan bawah, bahkan hingga bahu.
    • Gejala sering memburuk saat aktivitas berulang atau saat tidur (sering membangunkan pasien).
  • Gejala Motorik:
    • Kelemahan atau kesulitan menggenggam benda kecil.
    • Pada kasus berat dan kronis, dapat terjadi atrofi otot thenar (otot-otot di pangkal ibu jari).
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Tes Tinel: Perkusi ringan di atas nervus medianus di pergelangan tangan menghasilkan sensasi kesemutan atau nyeri.
    • Tes Phalen: Fleksi maksimal pergelangan tangan selama 30-60 detik memprovokasi kesemutan atau nyeri.
    • Reverse Phalen (Prayer Sign): Ekstensi maksimal pergelangan tangan selama 30-60 detik juga dapat memprovokasi gejala.
    • Pemeriksaan kekuatan otot thenar (abduksi dan oposisi ibu jari) serta sensasi di area distribusi nervus medianus.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis CTS ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi dengan pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis: Keluhan khas parestesia dan nyeri di distribusi nervus medianus, memburuk di malam hari atau dengan aktivitas.
  • Pemeriksaan Fisik: Adanya tanda Tinel dan/atau Phalen positif, kelemahan otot thenar, atau atrofi thenar.
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Nerve Conduction Study (NCS) / Elektromiografi (EMG): Merupakan gold standard untuk mengkonfirmasi diagnosis dan menilai tingkat keparahan kompresi saraf. Menunjukkan perlambatan konduksi saraf medianus di pergelangan tangan.
    • USG Muskuloskeletal: Dapat menunjukkan pembengkakan nervus medianus di terowongan karpal.
    • MRI: Jarang diperlukan, kecuali untuk menyingkirkan penyebab lain seperti massa atau tumor.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi dapat menyerupai gejala CTS. Penting untuk membedakannya agar tatalaksana tepat.

KondisiCiri Khas
Radikulopati Servikal C6/C7Nyeri leher/bahu menjalar ke lengan, gejala sensorik/motorik bisa di area yang lebih luas, positif tes Spurling.
Sindrom Pronator TeresKompresi nervus medianus di lengan bawah oleh otot pronator teres. Nyeri di lengan bawah, tidak ada gejala malam hari, Tinel positif di proksimal lengan bawah. Sering melibatkan cabang palmar kutaneus nervus medianus (yang tidak melewati karpal tunnel), sehingga sensasi di telapak tangan proksimal tetap intak.
Neuropati Ulnaris (Cubital Tunnel Syndrome)Kesemutan/baal pada jari manis (sisi ulnar) dan jari kelingking, kelemahan otot intrinsik tangan (interossei, hipothenar). Tes Tinel positif di siku.
PolineuropatiGejala simetris, "stocking-glove" distribution, seringkali akibat diabetes atau kondisi sistemik lainnya.

Tatalaksana

Tatalaksana CTS bervariasi tergantung tingkat keparahan dan durasi gejala. Pendekatan konservatif umumnya dicoba terlebih dahulu.

  • Tatalaksana Non-Farmakologis:
    • Splinting (bidai): Penggunaan bidai pergelangan tangan, terutama saat tidur, untuk menjaga pergelangan tangan dalam posisi netral dan mengurangi tekanan pada saraf.
    • Modifikasi Aktivitas: Menghindari gerakan berulang atau posisi pergelangan tangan yang memprovokasi gejala.
    • Ergonomi: Penyesuaian stasiun kerja atau alat untuk mengurangi stres pada pergelangan tangan.
    • Fisioterapi: Latihan peregangan saraf (nerve gliding exercises) dan penguatan otot.
  • Tatalaksana Farmakologis:
    • NSAID: Untuk mengurangi nyeri dan peradangan (efektivitas terbatas pada kompresi saraf).
    • Injeksi Kortikosteroid: Injeksi lokal kortikosteroid ke dalam terowongan karpal dapat memberikan peredaan gejala sementara hingga beberapa bulan, namun tidak bersifat permanen.
  • Tatalaksana Bedah:
    • Carpal Tunnel Release (CTR): Prosedur bedah untuk memotong ligamen karpal transversal (fleksor retinakulum) guna melepaskan tekanan pada nervus medianus.
    • Indikasi bedah: Gejala yang tidak membaik dengan tatalaksana konservatif setelah 3-6 bulan, adanya kelemahan otot thenar progresif, atau atrofi otot thenar.
    • Dapat dilakukan secara open (terbuka) atau endoscopic.

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, CTS dapat menyebabkan komplikasi serius.

  • Kerusakan saraf permanen: Menyebabkan kelemahan dan atrofi otot thenar yang tidak dapat pulih.
  • Penurunan fungsi tangan: Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Nyeri kronis.

Prognosis

Prognosis CTS umumnya baik, terutama jika didiagnosis dan ditangani secara dini.

  • Sebagian besar kasus ringan hingga sedang merespons baik terhadap tatalaksana konservatif.
  • Tatalaksana bedah memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam meredakan gejala, namun pemulihan lengkap mungkin memakan waktu beberapa bulan.
  • Kasus dengan atrofi otot thenar yang signifikan mungkin memiliki pemulihan yang kurang optimal.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds