Bronkiektasis seringkali merupakan akibat dari berbagai kondisi yang menyebabkan kerusakan saluran napas. Identifikasi penyebab sangat penting untuk tatalaksana yang tepat.
Mekanisme utama bronkiektasis dikenal sebagai 'vicious cycle' atau siklus setan, yang melibatkan infeksi, inflamasi, dan kerusakan saluran napas.
Gejala bronkiektasis seringkali kronis dan progresif, bervariasi tergantung pada luasnya penyakit.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:
Diagnosis bronkiektasis ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Beberapa kondisi memiliki gejala serupa dengan bronkiektasis, sehingga perlu dibedakan.
| Kondisi | Poin Pembeda Kunci |
|---|---|
| Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) | Umumnya riwayat merokok berat, obstruksi aliran udara yang ireversibel, bronkiektasis dapat menjadi komplikasi PPOK. HRCT penting untuk membedakan. |
| Asma | Obstruksi aliran udara reversibel, respons baik terhadap bronkodilator, gejala episodik, riwayat alergi. Bronkiektasis bisa terjadi pada ABPA. |
| Tuberkulosis (TB) Paru | Batuk kronis, penurunan berat badan, demam. Diagnosis dengan BTA sputum dan kultur M. tuberculosis. TB dapat menyebabkan bronkiektasis. |
| Bronkitis Kronis | Batuk produktif minimal 3 bulan dalam setahun selama 2 tahun berturut-turut, tanpa bukti bronkiektasis pada pencitraan. |
| Kanker Paru | Gejala obstruksi bronkus, hemoptisis. Perlu CT scan dan biopsi untuk konfirmasi. |
Tujuan tatalaksana adalah mengontrol infeksi, mengurangi inflamasi, memperbaiki klirens mukosiliar, dan mencegah progresivitas penyakit.
Bronkiektasis yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius.
Prognosis bronkiektasis bervariasi tergantung pada etiologi, luasnya penyakit, fungsi paru saat diagnosis, dan respons terhadap tatalaksana. Dengan diagnosis dini dan tatalaksana yang agresif, banyak pasien dapat menjalani hidup yang relatif normal, meskipun penyakit ini bersifat kronis dan progresif. Faktor-faktor seperti infeksi Pseudomonas aeruginosa kronis, frekuensi eksaserbasi, dan penurunan fungsi paru yang cepat dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi