Blefaritis: Tipe, Diagnosis, dan Tatalaksana

Mata terasa gatal, kelopak mata merah, dan ada 'ketombe' di bulu mata? Hati-hati, bisa jadi itu blefaritis! Kondisi peradangan kelopak mata ini sering sekali ditemui di praktik sehari-hari dan penting banget kamu kuasai, apalagi untuk UKMPPD. Yuk, bedah tuntas mulai dari tipe anterior seboroik, ulseratif, hingga posterior MGD, serta cara diagnosis dan tatalaksananya yang tepat!

Definisi

Blefaritis adalah peradangan kronis pada kelopak mata yang seringkali mengenai margin kelopak mata. Kondisi ini sangat umum, dapat bersifat bilateral, dan cenderung kambuh (rekuren).

Blefaritis menyebabkan iritasi, gatal, kemerahan, dan pembentukan sisik atau krusta pada bulu mata atau kelopak mata.

Klasifikasi & Etiologi

Blefaritis diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan etiologinya. Tiga tipe utama yang sering dibahas adalah:

Tipe BlefaritisLokasi UtamaEtiologi KhasGambaran Khas
Blefaritis Anterior SeboroikMargin kelopak mata anterior (sekitar bulu mata)Disfungsi kelenjar sebasea (minyak) pada kulit dan folikel bulu mata, sering terkait dengan dermatitis seboroik.Sisik berminyak, berwarna kekuningan menempel pada bulu mata ("dandruff-like scales").
Blefaritis Anterior Ulseratif (Stafilokokus)Margin kelopak mata anterior (folikel bulu mata)Infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada folikel bulu mata.Krusta keras, kekuningan di dasar bulu mata; ulserasi kecil, perdarahan, dan madarosis (kehilangan bulu mata).
Blefaritis Posterior (Disfungsi Kelenjar Meibom/MGD)Margin kelopak mata posterior (sekitar orifisium kelenjar Meibom)Disfungsi kelenjar Meibom (sumbatan atau perubahan kualitas sekresi minyak), sering terkait dengan rosasea.Orifisium kelenjar Meibom tersumbat, "pouting" (penonjolan), "capping" (penutupan), atau "foamy" (berbusa) pada tepi kelopak mata; mata kering.

Faktor Risiko

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko terjadinya blefaritis:

  • Dermatitis seboroik.
  • Rosasea.
  • Alergi.
  • Infeksi bakteri (terutama Staphylococcus).
  • Mata kering.
  • Penggunaan lensa kontak.
  • Faktor lingkungan (debu, asap).
  • Usia lanjut (terutama MGD).

Patofisiologi

Mekanisme terjadinya blefaritis bervariasi tergantung tipenya:

  • Pada blefaritis anterior seboroik, terjadi produksi sebum berlebihan oleh kelenjar sebasea di kelopak mata, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan bakteri komensal dan peradangan.
  • Pada blefaritis anterior ulseratif, bakteri Staphylococcus aureus menginfeksi folikel bulu mata dan kelenjar sebasea, menyebabkan respons inflamasi, ulserasi, dan pembentukan krusta.
  • Pada blefaritis posterior (MGD), terjadi disfungsi kelenjar Meibom yang menghasilkan lipid (minyak) untuk lapisan air mata. Sumbatan atau perubahan kualitas sekresi ini mengganggu stabilitas lapisan air mata, menyebabkan evaporasi berlebihan, mata kering, dan peradangan.

Manifestasi Klinis

Gejala umum blefaritis meliputi:

  • Rasa gatal atau terbakar pada mata.
  • Iritasi, sensasi benda asing.
  • Mata merah, terutama pada tepi kelopak mata.
  • Pembengkakan kelopak mata ringan.
  • Air mata berlebihan atau mata kering.
  • Sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia).
  • Krusta atau sisik pada bulu mata saat bangun tidur.

Gambaran spesifik berdasarkan tipe:

  • Anterior Seboroik: Sisik berminyak, kekuningan pada bulu mata dan kulit kelopak mata.
  • Anterior Ulseratif: Krusta keras, kuning-keabu-abuan di dasar bulu mata; ulserasi kecil, perdarahan; madarosis (kehilangan bulu mata), trikiasis (arah bulu mata abnormal).
  • Posterior (MGD): Tepi kelopak mata hiperemis, orifisium kelenjar Meibom tersumbat atau menonjol; sekresi kelenjar Meibom keruh/kental saat ditekan; busa pada tepi kelopak mata; konjungtiva bulbi hiperemis.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis blefaritis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik mata, terutama inspeksi margin kelopak mata menggunakan slit lamp.

Penting untuk menanyakan riwayat gejala, faktor risiko, dan kondisi sistemik terkait seperti dermatitis seboroik atau rosasea.

Pemeriksaan Penunjang

Umumnya, blefaritis didiagnosis secara klinis dan tidak memerlukan pemeriksaan penunjang rutin.

Kultur bakteri dari margin kelopak mata dapat dipertimbangkan pada kasus yang parah, tidak responsif terhadap terapi standar, atau rekuren, untuk mengidentifikasi patogen spesifik dan menentukan sensitivitas antibiotik.

Tes Schirmer atau Tear Break-up Time (TBUT) dapat dilakukan untuk menilai status mata kering, terutama pada blefaritis posterior (MGD).

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi lain dapat menyerupai blefaritis:

  • Konjungtivitis alergi: Lebih dominan gatal dan kemosis, tanpa krusta spesifik pada bulu mata.
  • Dermatitis kontak: Riwayat paparan alergen/iritan, biasanya lebih akut dan mengenai kulit sekitar mata.
  • Herpes simpleks oftalmikus: Vesikel atau ulkus khas, sering unilateral.
  • Karsinoma sel basal/skuamosa: Lesi nodular atau ulseratif kronis yang tidak sembuh, perlu biopsi.
  • Pedikulosis palpebra: Adanya kutu atau nits pada bulu mata.

Tatalaksana

Tujuan tatalaksana adalah mengontrol gejala dan mencegah komplikasi, karena blefaritis seringkali kronis dan rekuren.

Non-Farmakologis:

  • Kompres hangat: Aplikasikan kompres hangat pada kelopak mata selama 5-10 menit, 2-4 kali sehari. Ini membantu melunakkan krusta dan melepaskan sumbatan kelenjar Meibom.
  • Pembersihan kelopak mata (Lid Hygiene): Gosok lembut margin kelopak mata dengan kapas atau kain bersih yang dibasahi air hangat atau larutan pembersih khusus mata (misalnya baby shampoo yang diencerkan atau produk lid scrub komersial). Lakukan setelah kompres hangat, 1-2 kali sehari.
  • Pijatan kelopak mata: Setelah kompres hangat, pijat lembut kelopak mata untuk membantu mengeluarkan sekresi kelenjar Meibom yang tersumbat.

Farmakologis:

  • Antibiotik topikal:
    • Untuk blefaritis anterior ulseratif: Salep atau tetes mata antibiotik (misalnya eritromisin, basitrasin, azitromisin) dapat diaplikasikan pada margin kelopak mata, biasanya sebelum tidur.
    • Untuk blefaritis posterior (MGD) dengan tanda infeksi sekunder.
  • Antibiotik oral:
    • Pada kasus blefaritis posterior (MGD) yang parah atau tidak responsif terhadap terapi topikal, antibiotik oral dengan efek anti-inflamasi (misalnya doksisiklin dosis rendah, tetrasiklin) dapat diberikan selama beberapa minggu hingga bulan.
    • Mekanismenya bukan hanya antibakteri, tetapi juga mengurangi produksi lipase bakteri dan memodifikasi sekresi kelenjar Meibom.
  • Kortikosteroid topikal:
    • Tetes mata kortikosteroid dosis rendah (misalnya fluorometholone, loteprednol) dapat digunakan untuk jangka pendek (1-2 minggu) untuk mengurangi peradangan akut yang parah, terutama pada blefaritis posterior.
    • Penggunaan jangka panjang harus dihindari karena risiko efek samping (peningkatan TIO, katarak).
  • Air mata buatan (Artificial Tears): Untuk mengatasi gejala mata kering, terutama pada blefaritis posterior (MGD) yang sering disertai gangguan lapisan air mata.
  • Siklosporin topikal: Dapat dipertimbangkan untuk blefaritis posterior kronis dengan komponen inflamasi signifikan yang tidak responsif terhadap terapi lain.

Komplikasi

Blefaritis yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi:

  • Hordeolum (Stye) atau Kalazion: Sumbatan dan infeksi kelenjar kelopak mata.
  • Keratitis: Peradangan kornea akibat iritasi kronis atau infeksi sekunder.
  • Konjungtivitis kronis: Peradangan konjungtiva yang persisten.
  • Madarosis: Kehilangan bulu mata.
  • Trikiasis: Bulu mata tumbuh ke arah dalam, mengiritasi kornea.
  • Ektropion/Entropion: Perubahan posisi kelopak mata akibat peradangan kronis dan jaringan parut.
  • Mata kering kronis: Terutama pada MGD.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk keberhasilan tatalaksana dan pencegahan rekurensi:

  • Jelaskan bahwa blefaritis adalah kondisi kronis yang membutuhkan penanganan rutin dan jangka panjang, bukan hanya saat kambuh.
  • Tekankan pentingnya lid hygiene setiap hari sebagai bagian dari rutinitas kebersihan pribadi.
  • Hindari menggosok mata.
  • Gunakan kosmetik mata dengan hati-hati dan bersihkan secara tuntas.
  • Identifikasi dan kelola faktor risiko yang mendasari (misalnya dermatitis seboroik, rosasea).
  • Jelaskan tanda-tanda komplikasi yang memerlukan pemeriksaan dokter segera.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds