
Benda asing telinga didefinisikan sebagai setiap objek non-biologis atau biologis yang masuk dan terjebak secara tidak sengaja pada kanal auditorius eksternal maupun ruang timpanik. Kondisi ini merupakan salah satu kelainan paling sering ditemui pada praktik klinis THT-KL, terutama pada populasi anak-anak namun juga dapat terjadi pada dewasa akibat kebiasaan membersihkan telinga atau paparan lingkungan kerja.
Penanganan dini sangat krusial karena benda asing dapat menyebabkan iritasi mukosa, infeksi sekunder, hingga kerusakan struktur telinga tengah jika dibiarkan berkepanjangan. Pemahaman anatomi dan fisiologi kanal telinga serta karakteristik benda asing menjadi dasar penatalaksanaan yang aman dan efektif.
Etiologi benda asing di telinga terutama berkaitan dengan usia pasien, aktivitas sehari-hari, dan karakteristik anatomis liang telinga luar. Kelompok populasi tertentu memiliki risiko lebih tinggi akibat kebiasaan atau kondisi neurologis yang memengaruhi persepsi dan koordinasi motorik halus.
Masuknya benda asing ke liang telinga luar memicu respons jaringan lokal yang bergantung pada jenis material dan durasi penempelan. Benda organik seperti serangga atau biji-bijian akan menyerap cairan liang telinga sehingga mengalami pembengkakan, sedangkan benda anorganik cenderung bersifat iritan mekanis. Reaksi inflamasi akut segera terjadi akibat trauma epitel kulit liang telinga oleh gesekan atau tekanan benda tersebut.
Proses patofisiologi berlanjut dengan gangguan transmisi gelombang suara karena obstruksi mekanis liang telinga, yang secara klinis bermanifestasi sebagai tuli konduktif ringan hingga sedang. Selain itu, akumulasi sekret dan debris yang terperangkap menciptakan lingkungan lembap ideal bagi proliferasi bakteri maupun jamur sekunder. Stimulasi nervus vagus melalui cabang aurikularis dapat memicu refleks vasovagal berupa mual, pusing, atau batuk paroksismal.

Gejala klinis benda asing di telinga sangat bervariasi tergantung pada karakteristik fisik benda, lokasi penumpukan, dan durasi keberadaan di dalam liang telinga. Pasien umumnya mengeluhkan rasa tidak nyaman yang progresif disertai penurunan fungsi pendengaran atau sensasi tersumbat secara unilateral. Temuan objektif sering kali menunjukkan hiperemis, edema mukosa, atau eksudat jika terjadi komplikasi infeksi sekunder.
Diagnosis benda asing di telinga ditegakkan melalui anamnesis menyeluruh yang mengidentifikasi jenis paparan, durasi masuknya objek, serta gejala penyerta seperti penurunan pendengaran, nyeri, atau sekret telinga. Riwayat trauma atau kebiasaan memasukkan benda ke dalam liang telinga sangat membantu mengarahkan pemeriksaan fisik selanjutnya.
Pemeriksaan penunjang dilakukan secara selektif untuk memastikan lokasi, ukuran, dan karakteristik benda asing sebelum tindakan ekstraksi. Evaluasi ini bertujuan mencegah komplikasi iatrogenik selama prosedur pengangkatan.
Penatalaksanaan benda asing di telinga memerlukan pendekatan sistematis berdasarkan jenis, lokasi, dan karakteristik benda tersebut. Evaluasi awal harus dilakukan untuk memastikan keamanan pasien dan menghindari trauma lebih lanjut pada membran timpani atau kanal auditorius eksternus.
Pendekatan konservatif dan rujukan ke spesialis THT diperlukan ketika metode rawat jalan gagal atau menimbulkan komplikasi akut.
Penundaan penanganan benda asing di telinga dapat memicu berbagai komplikasi lokal maupun sistemik yang memerlukan intervensi lebih invasif. Paparan benda asing secara terus-menerus akan mengiritasi kulit liang telinga serta membran timpani, sehingga memicu respons inflamasi dan infeksi sekunder. Pemahaman dini mengenai potensi risiko ini sangat krusial bagi dokter umum dan gigi dalam melakukan rujukan tepat waktu ke spesialis THT-KL.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi