Audiometri standar menggunakan nada murni untuk mengukur ambang pendengaran, namun informasi ini saja tidak cukup untuk menentukan lokasi lesi dan jenis gangguan pendengaran. Audiometri khusus dirancang untuk mengidentifikasi lokasi kerusakan (koklea versus saraf) dan memberikan informasi tambahan tentang fungsi pendengaran. Pemeriksaan ini penting dalam diagnosis diferensial gangguan pendengaran sensorineural.
Rekrutmen adalah fenomena unik pada gangguan pendengaran tipe koklea di mana pasien menunjukkan sensitivitas abnormal terhadap perubahan intensitas suara. Meskipun pasien memiliki ambang dengar yang tinggi, begitu suara melampaui ambang, telinga mereka menjadi sangat sensitif terhadap peningkatan kecil dalam volume.
Ini terjadi karena pada tuli koklea, sel-sel rambut luar yang rusak tidak berfungsi, tetapi sel-sel rambut dalam masih dapat merespons dengan normal. Akibatnya, jangkauan dinamis pendengaran menyempit drastis: ambangnya tinggi, tapi jangkauan suara yang dapat ditoleransi berkurang.
Prosedur: Pasien mendengarkan nada pada intensitas tertentu yang 20 dB di atas ambang dengarnya. Kemudian, setiap 5 detik, intensitas ditingkatkan sebesar 1 dB selama 200 milidetik. Pasien diminta menunjukkan setiap kali merasakan peningkatan intensitas ini.
Interpretasi Hasil:
Nilai Klinis: SISI membantu membedakan antara tuli koklea (di mana rekrutmen ada) dan tuli retrokoklea/saraf pendengaran (di mana rekrutmen tidak ada). Ini adalah tes cepat dan relatif mudah dilakukan.
Contoh: Seorang pasien dengan gangguan pendengaran dapat mendengarkan radio dengan volume sedang, tetapi jika volumenya ditambah sedikit, tiba-tiba terasa sangat keras dan tidak nyaman. Ini adalah manifestasi klinis rekrutmen.
Berbeda dengan rekrutmen yang terjadi pada tuli koklea, tuli retrokoklea (lesi pada saraf pendengaran atau pusat saraf pendengaran) sering menunjukkan "kelelahan" atau "adaptasi". Ini berarti bahwa ketika pasien mendengarkan nada terus-menerus pada ambangnya, respons pendengaran mereka menurun seiring waktu.
Prosedur: Pasien mendengarkan nada murni pada ambang dengarnya. Waktu diukur untuk melihat berapa lama pasien dapat terus mendengar nada tersebut sebelum "hilang" dari kesadaran mereka. Jika tuli retrokoklea ada, ambang akan meningkat (nada akan terasa hilang), dan penambahan intensitas diperlukan untuk membuat nada terdengar lagi.
Interpretasi Hasil:
Nilai Klinis: TTD khususnya berguna untuk mendeteksi lesi saraf pendengaran atau tumor seperti neuroma akustik.
Definisi: SRT adalah intensitas (dalam dB HL) di mana pasien dapat mengulangi kata-kata monosyllabic (satu suku kata) dengan benar 50% dari waktu.
Karakteristik Normal: Pada individu normal, SRT biasanya berkisar 20-30 dB di atas ambang nada murni mereka. Misalnya, jika ambang nada murni 0 dB HL, SRT diperkirakan akan sekitar 20-30 dB HL.
Nilai Klinis: SRT membantu memvalidasi audiometri nada murni. Jika SRT jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari yang diharapkan berdasarkan audiogram nada murni, ini dapat mengindikasikan masalah seperti:
Definisi: SDS mengukur persentase kata-kata monosyllabic yang dapat diulangi dengan benar oleh pasien pada intensitas tertentu (biasanya 40 dB di atas SRT atau pada intensitas yang nyaman).
Contoh Hasil:
Nilai Klinis: Penurunan SDS yang tidak proporsional dengan kehilangan pendengaran nada murni sangat mencurigakan untuk tuli retrokoklea atau lesi saraf pendengaran.
Tipe I (Normal): Kedua grafik (untuk nada naik dan nada turun dalam intensitas) berhimpitan di seluruh rentang frekuensi. Ini menunjukkan pendengaran normal atau tuli konduksi ringan.
Tipe II (Tuli Koklea): Grafik tetap berhimpitan pada frekuensi rendah, tetapi pada frekuensi di atas 1000 Hz, grafik mulai terpisah. Amplitudo grafik menurun pada frekuensi tinggi. Pola ini khas untuk gangguan pendengaran koklea progresif seperti presbikusis.
Tipe III (Tuli Retrokoklea): Grafik terpisah jelas di seluruh rentang frekuensi sejak awal. Pemisahan ini menunjukkan bahwa pasien menunjukkan perbedaan yang konsisten antara respons mereka terhadap nada yang meningkat versus menurun dalam intensitas, karakteristik dari lesi saraf pendengaran.
Nilai Klinis: Tipe Bekesy dapat membantu membedakan antara tuli koklea dan tuli retrokoklea. Tipe III sangat mencurigakan untuk tumor saraf pendengaran atau lesi lainnya.
Tipe IV dan V juga dijelaskan dalam beberapa literatur, mewakili varian tuli retrokoklea dengan pola yang berbeda, tetapi Tipe I-III adalah yang paling sering digunakan dalam klasifikasi.
Apa yang Diukur: Timpanometri mengukur kelenturan (compliance) membran timpani dan tekanan dalam telinga tengah. Alat ini mengirimkan nada 226 Hz ke telinga sambil secara perlahan mengubah tekanan udara.
Tipe-Tipe Timpanogram:
Konsep: Ketika suara keras memasuki telinga, otot stapedius berkontraksi sebagai mekanisme perlindungan, mengurangi transmisi suara ke koklea. Refleks ini dapat diukur melalui timpanometri.
Ambang Normal: Refleks stapedius biasanya muncul pada 70-80 dB HL.
Perubahan Pada Patologi:
Nilai Klinis: Refleks stapedius yang hilang atau meningkat ambangnya sangat mencurigakan untuk tuli retrokoklea atau tumor saraf pendengaran.
Definisi: BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) adalah pemeriksaan objektif yang merekam aktivitas elektrik di sepanjang jalur pendengaran dari koklea hingga batang otak.
Prinsip Kerja:
Gelombang BERA: Lima gelombang utama diidentifikasi (I-V), masing-masing mencerminkan aktivitas di wilayah spesifik:
Interpretasi Klinis:
Nilai Klinis BERA:
BERA juga disebut ABR (Auditory Brainstem Response) dalam literatur internasional. Istilah ini digunakan secara bergantian.
Konsep: OAE adalah suara kecil yang diproduksi oleh koklea itu sendiri sebagai bagian dari proses pendengaran normal. Ketika sel rambut luar koklea diaktifkan, mereka tidak hanya menerima getaran mekanis tetapi juga menghasilkan getaran kembali. Getaran ini dapat dideteksi dengan mikrofon peka di saluran telinga.
Nilai Klinis: Kehadiran OAE menunjukkan bahwa sel rambut luar koklea berfungsi normal. Ketiadaan OAE menunjukkan kerusakan sel rambut luar atau masalah di sepanjang jalur transmisi suara.
Jenis-Jenis OAE:
Spontaneous Otoacoustic Emission (SOAE):
Evoked Otoacoustic Emission (EOAE):
Interpretasi:
Aplikasi Klinis:
Prinsip: Metode Stenger didasarkan pada hukum penjumlahan lokal Stenger: ketika dua suara diberikan secara bersamaan ke dua telinga pada frekuensi yang sama dengan intensitas berbeda, pasien hanya mendengarkan suara yang lebih keras.
Prosedur:
Interpretasi:
Prinsip: Gangguan pendengaran sejati bersifat konsisten. Jika audiogram dilakukan berulang kali dalam waktu singkat, hasilnya harus serupa.
Prosedur:
Interpretasi:
Nilai Klinis: Metode ini sederhana dan tidak memerlukan peralatan khusus, tetapi memerlukan kunjungan berulang dari pasien.
Pada pasien dengan pendengaran anorganik, struktur telinga tengah mereka sebenarnya berfungsi normal. Oleh karena itu, timpanometri dan pengujian refleks stapedius akan menunjukkan hasil normal, yang bertentangan dengan klaim gangguan pendengaran mereka.
Interpretasi:
Nilai Klinis: Memberikan bukti objektif yang dapat membantah klaim pasien.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi