Audiometri Lanjutan dan Pemeriksaan Khusus

Materi pembelajaran Audiometri Lanjutan dan Pemeriksaan Khusus untuk mahasiswa kedokteran gigi.

Pengantar

Audiometri standar menggunakan nada murni untuk mengukur ambang pendengaran, namun informasi ini saja tidak cukup untuk menentukan lokasi lesi dan jenis gangguan pendengaran. Audiometri khusus dirancang untuk mengidentifikasi lokasi kerusakan (koklea versus saraf) dan memberikan informasi tambahan tentang fungsi pendengaran. Pemeriksaan ini penting dalam diagnosis diferensial gangguan pendengaran sensorineural.

Apa itu Rekrutmen?

Rekrutmen adalah fenomena unik pada gangguan pendengaran tipe koklea di mana pasien menunjukkan sensitivitas abnormal terhadap perubahan intensitas suara. Meskipun pasien memiliki ambang dengar yang tinggi, begitu suara melampaui ambang, telinga mereka menjadi sangat sensitif terhadap peningkatan kecil dalam volume.

Ini terjadi karena pada tuli koklea, sel-sel rambut luar yang rusak tidak berfungsi, tetapi sel-sel rambut dalam masih dapat merespons dengan normal. Akibatnya, jangkauan dinamis pendengaran menyempit drastis: ambangnya tinggi, tapi jangkauan suara yang dapat ditoleransi berkurang.

Tes SISI (Short Increment Sensitivity Index)

Prosedur: Pasien mendengarkan nada pada intensitas tertentu yang 20 dB di atas ambang dengarnya. Kemudian, setiap 5 detik, intensitas ditingkatkan sebesar 1 dB selama 200 milidetik. Pasien diminta menunjukkan setiap kali merasakan peningkatan intensitas ini.

Interpretasi Hasil:

  • Skor 70-100% menunjukkan rekrutmen positif (tuli koklea)
  • Skor

Nilai Klinis: SISI membantu membedakan antara tuli koklea (di mana rekrutmen ada) dan tuli retrokoklea/saraf pendengaran (di mana rekrutmen tidak ada). Ini adalah tes cepat dan relatif mudah dilakukan.

Contoh: Seorang pasien dengan gangguan pendengaran dapat mendengarkan radio dengan volume sedang, tetapi jika volumenya ditambah sedikit, tiba-tiba terasa sangat keras dan tidak nyaman. Ini adalah manifestasi klinis rekrutmen.

Konsep Kelelahan Saraf

Berbeda dengan rekrutmen yang terjadi pada tuli koklea, tuli retrokoklea (lesi pada saraf pendengaran atau pusat saraf pendengaran) sering menunjukkan "kelelahan" atau "adaptasi". Ini berarti bahwa ketika pasien mendengarkan nada terus-menerus pada ambangnya, respons pendengaran mereka menurun seiring waktu.

Tes Tone Decay (TTD)

Prosedur: Pasien mendengarkan nada murni pada ambang dengarnya. Waktu diukur untuk melihat berapa lama pasien dapat terus mendengar nada tersebut sebelum "hilang" dari kesadaran mereka. Jika tuli retrokoklea ada, ambang akan meningkat (nada akan terasa hilang), dan penambahan intensitas diperlukan untuk membuat nada terdengar lagi.

Interpretasi Hasil:

  • Normal: Pasien dapat mendengar nada terus-menerus selama 60 detik tanpa perlu penambahan intensitas
  • Positif untuk tuli retrokoklea: Nada "hilang" sebelum 60 detik, memerlukan penambahan intensitas untuk menjaga kesadaran auditori

Nilai Klinis: TTD khususnya berguna untuk mendeteksi lesi saraf pendengaran atau tumor seperti neuroma akustik.

Audiometri Tutur (Speech Audiometry)

Manusia tidak hanya mendengarkan nada murni dalam kehidupan sehari-hari—kita mendengarkan kata-kata dan kalimat. Audiometri tutur mengukur kemampuan fungsional pendengaran menggunakan materi ucapan nyata.

Speech Reception Threshold (SRT)

Definisi: SRT adalah intensitas (dalam dB HL) di mana pasien dapat mengulangi kata-kata monosyllabic (satu suku kata) dengan benar 50% dari waktu.

Karakteristik Normal: Pada individu normal, SRT biasanya berkisar 20-30 dB di atas ambang nada murni mereka. Misalnya, jika ambang nada murni 0 dB HL, SRT diperkirakan akan sekitar 20-30 dB HL.

Nilai Klinis: SRT membantu memvalidasi audiometri nada murni. Jika SRT jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari yang diharapkan berdasarkan audiogram nada murni, ini dapat mengindikasikan masalah seperti:

  • Kesulitan komunikasi pasien dengan petugas
  • Ketidakkonsistenan dalam respons pasien
  • Gangguan pemrosesan bahasa

Speech Discrimination Score (SDS)

Definisi: SDS mengukur persentase kata-kata monosyllabic yang dapat diulangi dengan benar oleh pasien pada intensitas tertentu (biasanya 40 dB di atas SRT atau pada intensitas yang nyaman).

Contoh Hasil:

  • Normal: 90-100%
  • Tuli koklea: Biasanya tetap baik (>80%)
  • Tuli retrokoklea: Sering menunjukkan penurunan signifikan (

Nilai Klinis: Penurunan SDS yang tidak proporsional dengan kehilangan pendengaran nada murni sangat mencurigakan untuk tuli retrokoklea atau lesi saraf pendengaran.

Audiometri Bekesy

Audiometri Bekesy adalah metode otomatis di mana pasien memegang tombol dan menekannya ketika mendengarkan nada, melepasnya ketika tidak mendengar. Nada secara otomatis naik dan turun dalam intensitas, menciptakan grafik kontinu ambang dengar.

Tipe-Tipe Bekesy dan Interpretasinya

Tipe I (Normal): Kedua grafik (untuk nada naik dan nada turun dalam intensitas) berhimpitan di seluruh rentang frekuensi. Ini menunjukkan pendengaran normal atau tuli konduksi ringan.

Tipe II (Tuli Koklea): Grafik tetap berhimpitan pada frekuensi rendah, tetapi pada frekuensi di atas 1000 Hz, grafik mulai terpisah. Amplitudo grafik menurun pada frekuensi tinggi. Pola ini khas untuk gangguan pendengaran koklea progresif seperti presbikusis.

Tipe III (Tuli Retrokoklea): Grafik terpisah jelas di seluruh rentang frekuensi sejak awal. Pemisahan ini menunjukkan bahwa pasien menunjukkan perbedaan yang konsisten antara respons mereka terhadap nada yang meningkat versus menurun dalam intensitas, karakteristik dari lesi saraf pendengaran.

Nilai Klinis: Tipe Bekesy dapat membantu membedakan antara tuli koklea dan tuli retrokoklea. Tipe III sangat mencurigakan untuk tumor saraf pendengaran atau lesi lainnya.

Tipe IV dan V juga dijelaskan dalam beberapa literatur, mewakili varian tuli retrokoklea dengan pola yang berbeda, tetapi Tipe I-III adalah yang paling sering digunakan dalam klasifikasi.

Audiometri Objektif

Berbeda dengan tes yang disebutkan sebelumnya, yang memerlukan respons subjektif pasien, audiometri objektif mengukur fungsi telinga tanpa memerlukan partisipasi sadar pasien. Ini sangat berharga untuk bayi, anak kecil, atau pasien yang tidak dapat berkomunikasi.

Timpanometri

Apa yang Diukur: Timpanometri mengukur kelenturan (compliance) membran timpani dan tekanan dalam telinga tengah. Alat ini mengirimkan nada 226 Hz ke telinga sambil secara perlahan mengubah tekanan udara.

Tipe-Tipe Timpanogram:

  • Tipe A (Normal): Puncak compliance normal, terjadi pada tekanan 0 daPa. Menunjukkan membran timpani dan tuba Eustachius berfungsi normal.
  • Tipe B (Datar): Tidak ada puncak yang jelas atau puncak sangat datar. Ini menunjukkan cairan di telinga tengah (otitis media serosa) atau membran timpani yang kaku.
  • Tipe C: Puncak ada tetapi bergeser ke negatif (-100 sampai 400 daPa). Menunjukkan disfungsi tuba Eustachius dengan tekanan telinga tengah yang rendah.
  • Tipe As: Puncak normal pada tekanan, tetapi compliance mengurang. Karakteristik otosklerosis, di mana stapes terfiksasi.
  • Tipe Ap: Puncak normal pada tekanan, tetapi compliance meningkat. Menunjukkan gangguan pada rantai ossikel, seperti diskontinuitas atau perforasi membran timpani.

Refleks Stapedius (Acoustic Reflex)

Konsep: Ketika suara keras memasuki telinga, otot stapedius berkontraksi sebagai mekanisme perlindungan, mengurangi transmisi suara ke koklea. Refleks ini dapat diukur melalui timpanometri.

Ambang Normal: Refleks stapedius biasanya muncul pada 70-80 dB HL.

Perubahan Pada Patologi:

  • Koklea: Ambang menurun (dapat muncul pada 50-60 dB HL). Ini karena kerusakan koklea menyebabkan persepsi kekerasan suara yang berlebihan.
  • Retrokoklea: Ambang meningkat atau refleks tidak ada. Ini karena lesi pada saraf pendengaran mengganggu jalur refleks.
  • Tidak ada refleks: Dapat menunjukkan tuli konduksi, tuli retrokoklea, atau lesi saraf fasial.

Nilai Klinis: Refleks stapedius yang hilang atau meningkat ambangnya sangat mencurigakan untuk tuli retrokoklea atau tumor saraf pendengaran.

Evoked Response Audiometry (BERA)

Definisi: BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) adalah pemeriksaan objektif yang merekam aktivitas elektrik di sepanjang jalur pendengaran dari koklea hingga batang otak.

Prinsip Kerja:

  • Elektroda ditempatkan di kulit pasien (di kening, di balik telinga, dan di dagu)
  • Stimulus bunyi nada klik diberikan melalui headphone
  • Perangkat merekam respons listrik kecil yang dihasilkan oleh jaringan saraf
  • Sinyal dirata-ratakan dari banyak stimulus untuk mengidentifikasi gelombang-gelombang kecil

Gelombang BERA: Lima gelombang utama diidentifikasi (I-V), masing-masing mencerminkan aktivitas di wilayah spesifik:

Interval Penting:

  • II-III: Waktu konduksi antara inti koklea dan superior oliva
  • IV-V: Waktu konduksi di batang otak bagian atas

Interpretasi Klinis:

  • Laten Gelombang: Waktu dari stimulus hingga kemunculan gelombang. Laten yang panjang dapat menunjukkan demielinasi atau lesi pada jalur pendengaran.
  • Hilangnya Gelombang: Gelombang yang hilang menunjukkan blokade konduksi di lokasi tertentu
  • Pola Normal: Semua gelombang I-V hadir dengan laten yang tepat

Nilai Klinis BERA:

  • Deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi dan anak
  • Membedakan antara tuli koklea dan retrokoklea
  • Diagnosis tumor saraf pendengaran (neuroma akustik)—biasanya menunjukkan pemanjangan interval I-V atau hilangnya gelombang III/V
  • Monitoring fungsi saraf pendengaran setelah operasi batang otak

BERA juga disebut ABR (Auditory Brainstem Response) dalam literatur internasional. Istilah ini digunakan secara bergantian.

Otoacoustic Emission (OAE)

Konsep: OAE adalah suara kecil yang diproduksi oleh koklea itu sendiri sebagai bagian dari proses pendengaran normal. Ketika sel rambut luar koklea diaktifkan, mereka tidak hanya menerima getaran mekanis tetapi juga menghasilkan getaran kembali. Getaran ini dapat dideteksi dengan mikrofon peka di saluran telinga.

Nilai Klinis: Kehadiran OAE menunjukkan bahwa sel rambut luar koklea berfungsi normal. Ketiadaan OAE menunjukkan kerusakan sel rambut luar atau masalah di sepanjang jalur transmisi suara.

Jenis-Jenis OAE:

Spontaneous Otoacoustic Emission (SOAE):

  • Suara yang diproduksi koklea tanpa stimulus eksternal
  • Muncul pada individu normal tetapi tidak selalu
  • Kurang berguna untuk skrining klinis

Evoked Otoacoustic Emission (EOAE):

  • Respons koklea terhadap stimulus bunyi
  • TEOAE (Transient Evoked OAE): Menggunakan stimulus nada klik atau burst pendek. Ini adalah yang paling sering digunakan secara klinis.
  • DPOAE (Distortion Product OAE): Menggunakan dua nada berbeda dengan frekuensi yang berdekatan. Lebih spesifik untuk frekuensi tertentu.

Interpretasi:

  • OAE Hadir: Fungsi sel rambut luar normal. Kehilangan pendengaran, jika ada, kemungkinan besar tuli retrokoklea atau merupakan masalah konduksi.
  • OAE Tidak Hadir: Menunjukkan gangguan sel rambut luar (tuli koklea) atau masalah konduksi berat.

Aplikasi Klinis:

  • Skrining pendengaran pada bayi baru lahir
  • Membedakan tuli koklea dari tuli retrokoklea
  • Monitoring toksisitas ototoksik obat-obatan
  • Penilaian pada pasien koma atau tidak sadar (tidak memerlukan respons sadar)

Pemeriksaan Pendengaran Anorganik

Beberapa pasien secara sadar atau tidak sadar melaporkan gangguan pendengaran yang berlebihan atau dibuat-buat. Ini disebut "pendengaran anorganik" atau "non-organic hearing loss." Berbagai tes dirancang untuk mengidentifikasi pola ini.

Metode Stenger

Prinsip: Metode Stenger didasarkan pada hukum penjumlahan lokal Stenger: ketika dua suara diberikan secara bersamaan ke dua telinga pada frekuensi yang sama dengan intensitas berbeda, pasien hanya mendengarkan suara yang lebih keras.

Prosedur:

  • Dua nada murni dengan frekuensi yang sama dihasilkan untuk kedua telinga secara bersamaan
  • Awalnya, kedua nada pada intensitas yang sama
  • Nada pada telinga sehat secara bertahap ditingkatkan intensitasnya (dijauhkan), sementara nada pada telinga "sakit" tetap pada ambang yang dilaporkan
  • Jika pasien benar-benar memiliki gangguan pendengaran unilateral, mereka hanya akan mendengarkan suara yang lebih keras (dari telinga sehat)
  • Jika pasien melaporkan tidak mendengarkan suara sama sekali (memberikan jawaban positif untuk Stenger), ini menunjukkan pendengaran anorganik atau nonfungsional

Interpretasi:

  • Tes Stenger Positif: Pasien mendengarkan suara dari telinga sehat (suara lebih keras) tetapi kemudian mengatakan tidak mendengarnya. Ini sangat spesifik untuk pendengaran anorganik.
  • Tes Stenger Negatif: Temuan yang diharapkan pada gangguan pendengaran organik sejati.

Audiometri Nada Murni Berulang

Prinsip: Gangguan pendengaran sejati bersifat konsisten. Jika audiogram dilakukan berulang kali dalam waktu singkat, hasilnya harus serupa.

Prosedur:

  • Audiometri nada murni dilakukan beberapa kali selama periode satu minggu
  • Ambang dengar pada berbagai frekuensi dicatat

Interpretasi:

  • Konsisten: Hasil yang sama pada setiap pengujian menunjukkan gangguan pendengaran organik sejati
  • Variasi Signifikan: Jika hasil bervariasi banyak antar pengujian (misalnya, ambang berubah 20 dB atau lebih), ini sangat mencurigakan untuk pendengaran anorganik atau upaya pasien untuk memalsukan gangguan pendengaran
  • Pola Tertentu: Beberapa pasien menunjukkan "kurva berbentuk V" yang tidak realistis atau penurunan ambang yang sangat cepat di frekuensi tinggi, yang tidak sesuai dengan pola kehilangan pendengaran yang dikenal secara medis

Nilai Klinis: Metode ini sederhana dan tidak memerlukan peralatan khusus, tetapi memerlukan kunjungan berulang dari pasien.

Pengujian Impedansi (Timpanometri dan Refleks Stapedius)

Pada pasien dengan pendengaran anorganik, struktur telinga tengah mereka sebenarnya berfungsi normal. Oleh karena itu, timpanometri dan pengujian refleks stapedius akan menunjukkan hasil normal, yang bertentangan dengan klaim gangguan pendengaran mereka.

Interpretasi:

  • Timpanometri Normal dan Refleks Hadir: Menunjukkan telinga tengah berfungsi baik, konsisten dengan pendengaran anorganik
  • Jika Diklaim Gangguan Pendengaran Signifikan Tetapi Tes Impedansi Normal: Sangat mencurigakan untuk pendengaran anorganik, terutama jika ada ketidaksesuaian antara audiogram nada murni (menunjukkan kehilangan pendengaran) dan tes objektif (normal)

Nilai Klinis: Memberikan bukti objektif yang dapat membantah klaim pasien.

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds