Anemia Sideroblastik adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh gangguan sintesis heme, menyebabkan akumulasi zat besi di mitokondria eritroblas yang belum matang dalam sumsum tulang.
Ciri khasnya adalah ditemukannya sideroblas cincin (ring sideroblasts), yaitu eritroblas dengan granula zat besi yang mengelilingi nukleus, saat pemeriksaan sumsum tulang.
Anemia sideroblastik dapat diklasifikasikan menjadi herediter (bawaan) atau akuisita (didapat), serta primer atau sekunder.
| Tipe | Karakteristik & Contoh |
|---|---|
| Herediter (Bawaan) |
|
| Akuisita (Didapat) |
|
Inti patofisiologinya adalah gangguan pada salah satu tahap sintesis heme, terutama pada jalur yang melibatkan enzim delta-aminolevulinic acid synthase (ALAS) atau enzim lain yang terkait.
Akibatnya, zat besi tidak dapat diinkorporasikan secara efisien ke dalam molekul protoporfirin untuk membentuk heme.
Zat besi yang tidak terpakai ini kemudian menumpuk di mitokondria eritroblas, membentuk granula yang terlihat sebagai sideroblas cincin.
Penumpukan zat besi ini juga menyebabkan kerusakan mitokondria dan eritropoiesis inefektif, yang pada akhirnya mengakibatkan anemia.
Gejala umum anemia:
Gejala terkait penumpukan zat besi (hemochromatosis sekunder, terutama pada kasus kronis atau herediter):
Kecurigaan muncul pada pasien dengan anemia mikrositik atau normositik yang tidak responsif terhadap suplementasi zat besi.
Pemeriksaan sumsum tulang adalah kunci untuk diagnosis definitif.
Kriteria diagnostik: ditemukannya ≥15% sideroblas cincin pada aspirasi sumsum tulang yang diwarnai dengan pewarnaan Prussian Blue.
Darah Lengkap (CBC):
Pemeriksaan Zat Besi:
Apusan Darah Tepi:
Pemeriksaan Sumsum Tulang (Biopsi dan Aspirasi):
Pemeriksaan Genetik: Dilakukan pada kasus herediter untuk mengidentifikasi mutasi gen (misalnya, gen ALAS2).
Tatalaksana sangat bergantung pada etiologi dan tingkat keparahan.
Identifikasi dan Eliminasi Penyebab:
Suplementasi Piridoksin (Vitamin B6):
Terapi Kelasi Besi (Iron Chelation Therapy):
Transfusi Darah:
Terapi Spesifik untuk MDS-RS:
Kelebihan Zat Besi (Hemochromatosis Sekunder):
Peningkatan Risiko Infeksi: Terutama pada pasien yang sering transfusi atau dengan MDS.
Transformasi menjadi Leukemia Mieloid Akut (AML): Terutama pada anemia sideroblastik akuisita primer (MDS-RS).
Bervariasi tergantung etiologi.
Anemia sideroblastik sekunder yang penyebabnya dapat dihilangkan (misalnya, obat-obatan, toksin) umumnya memiliki prognosis baik.
Tipe herediter yang responsif terhadap piridoksin juga memiliki prognosis yang lebih baik.
Anemia sideroblastik primer (MDS-RS) memiliki prognosis yang lebih buruk karena risiko transformasi menjadi AML dan komplikasi kelebihan zat besi.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi