Anemia Sideroblastik

Anemia sideroblastik adalah kelompok kelainan yang ditandai oleh adanya sideroblas cincin (ring sideroblasts) di sumsum tulang, menunjukkan gangguan sintesis heme dan penumpukan zat besi di mitokondria eritroblas. Kondisi ini seringkali terlewatkan, padahal penanganannya bisa sangat bervariasi tergantung etiologinya, loh! Yuk, pahami lebih dalam agar tidak salah diagnosis dan tatalaksana!

Definisi

Anemia Sideroblastik adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh gangguan sintesis heme, menyebabkan akumulasi zat besi di mitokondria eritroblas yang belum matang dalam sumsum tulang.

Ciri khasnya adalah ditemukannya sideroblas cincin (ring sideroblasts), yaitu eritroblas dengan granula zat besi yang mengelilingi nukleus, saat pemeriksaan sumsum tulang.

Etiologi & Klasifikasi

Anemia sideroblastik dapat diklasifikasikan menjadi herediter (bawaan) atau akuisita (didapat), serta primer atau sekunder.

TipeKarakteristik & Contoh
Herediter (Bawaan)
  • Biasanya terkait X-linked (paling umum, defisiensi ALA synthase 2/ALAS2), autosomal resesif, atau mitokondrial.
  • Seringkali bermanifestasi sejak usia muda.
  • Beberapa responsif terhadap piridoksin (Vitamin B6).
Akuisita (Didapat)
  • Primer: Sindrom mielodisplastik (MDS) dengan sideroblas cincin (MDS-RS). Sering pada lansia.
  • Sekunder:
    • Obat-obatan: Isoniazid (paling sering), kloramfenikol, pirazinamid, sikloserin, alkohol.
    • Toksin: Timbal (lead poisoning).
    • Defisiensi nutrisi: Defisiensi tembaga (jarang).
    • Penyakit lain: Penyakit inflamasi kronis, keganasan hematologi.

Patofisiologi

Inti patofisiologinya adalah gangguan pada salah satu tahap sintesis heme, terutama pada jalur yang melibatkan enzim delta-aminolevulinic acid synthase (ALAS) atau enzim lain yang terkait.

Akibatnya, zat besi tidak dapat diinkorporasikan secara efisien ke dalam molekul protoporfirin untuk membentuk heme.

Zat besi yang tidak terpakai ini kemudian menumpuk di mitokondria eritroblas, membentuk granula yang terlihat sebagai sideroblas cincin.

Penumpukan zat besi ini juga menyebabkan kerusakan mitokondria dan eritropoiesis inefektif, yang pada akhirnya mengakibatkan anemia.

Manifestasi Klinis

Gejala umum anemia:

  • Lemas, mudah lelah
  • Pucat
  • Sesak napas (dispnea) saat aktivitas
  • Palpitasi

Gejala terkait penumpukan zat besi (hemochromatosis sekunder, terutama pada kasus kronis atau herediter):

  • Hepatomegali dan splenomegali (pembesaran hati dan limpa)
  • Diabetes mellitus
  • Kardiomiopati
  • Hiperpigmentasi kulit ("bronze diabetes")

Penegakan Diagnosis

Kecurigaan muncul pada pasien dengan anemia mikrositik atau normositik yang tidak responsif terhadap suplementasi zat besi.

Pemeriksaan sumsum tulang adalah kunci untuk diagnosis definitif.

Kriteria diagnostik: ditemukannya ≥15% sideroblas cincin pada aspirasi sumsum tulang yang diwarnai dengan pewarnaan Prussian Blue.

Pemeriksaan Penunjang

Darah Lengkap (CBC):

  • Anemia (Hb rendah), biasanya mikrositik hipokromik, tetapi bisa juga normositik atau makrositik (terutama pada MDS).
  • RDW dapat meningkat.

Pemeriksaan Zat Besi:

  • Serum iron: Meningkat.
  • TIBC (Total Iron Binding Capacity): Normal atau menurun.
  • Saturasi Transferin: Meningkat (sering >50%).
  • Ferritin serum: Meningkat (indikator kelebihan zat besi).

Apusan Darah Tepi:

  • Anisositosis, poikilositosis.
  • Bisa ditemukan Pappenheimer bodies (inklus zat besi dalam eritrosit) atau basophilic stippling (terutama pada keracunan timbal).

Pemeriksaan Sumsum Tulang (Biopsi dan Aspirasi):

  • Meningkatnya eritropoiesis (hiperplasia eritroid).
  • Pewarnaan Prussian Blue (Perls' stain) menunjukkan sideroblas cincin (ring sideroblasts) ≥15%.

Pemeriksaan Genetik: Dilakukan pada kasus herediter untuk mengidentifikasi mutasi gen (misalnya, gen ALAS2).

Tatalaksana

Tatalaksana sangat bergantung pada etiologi dan tingkat keparahan.

Identifikasi dan Eliminasi Penyebab:

  • Hentikan obat-obatan pemicu (misalnya, isoniazid, kloramfenikol).
  • Hindari paparan toksin (misalnya, timbal).
  • Koreksi defisiensi (misalnya, suplementasi tembaga).

Suplementasi Piridoksin (Vitamin B6):

  • Diberikan pada semua pasien, terutama yang dicurigai defisiensi ALAS2 (X-linked).
  • Dosis tinggi (50-200 mg/hari) dapat memperbaiki anemia pada sekitar sepertiga kasus herediter.

Terapi Kelasi Besi (Iron Chelation Therapy):

  • Diperlukan jika ada kelebihan zat besi (ferritin serum >1000 ng/mL atau bukti kerusakan organ).
  • Contoh: Deferoksamin, Deferasirox, Deferiprone.

Transfusi Darah:

  • Untuk anemia simptomatik berat atau yang tidak responsif terhadap terapi lain.
  • Harus hati-hati karena dapat memperburuk kelebihan zat besi.

Terapi Spesifik untuk MDS-RS:

  • Obat-obatan seperti Luspatercept (agen pematangan eritroid) dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kebutuhan transfusi.
  • Transplantasi sel punca hematopoietik pada kasus tertentu.

Komplikasi

Kelebihan Zat Besi (Hemochromatosis Sekunder):

  • Kerusakan hati (sirosis, gagal hati).
  • Kerusakan jantung (kardiomiopati, gagal jantung).
  • Diabetes mellitus.
  • Hipogonadisme.
  • Kerusakan kelenjar endokrin lainnya.

Peningkatan Risiko Infeksi: Terutama pada pasien yang sering transfusi atau dengan MDS.

Transformasi menjadi Leukemia Mieloid Akut (AML): Terutama pada anemia sideroblastik akuisita primer (MDS-RS).

Prognosis

Bervariasi tergantung etiologi.

Anemia sideroblastik sekunder yang penyebabnya dapat dihilangkan (misalnya, obat-obatan, toksin) umumnya memiliki prognosis baik.

Tipe herediter yang responsif terhadap piridoksin juga memiliki prognosis yang lebih baik.

Anemia sideroblastik primer (MDS-RS) memiliki prognosis yang lebih buruk karena risiko transformasi menjadi AML dan komplikasi kelebihan zat besi.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds