Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah jenis anemia yang paling umum di dunia dan sering menjadi jebakan di soal UKMPPD. Kondisi ini bukan cuma bikin lemas, tapi juga bisa jadi petunjuk adanya masalah kesehatan lain yang mendasari. Yuk, kita bedah tuntas mulai dari penyebab, cara mendiagnosis dengan tepat, hingga tatalaksana yang efektif agar kamu siap menghadapi kasus ADB di ujian maupun praktik klinis!

Definisi

Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah kondisi anemia yang terjadi akibat tubuh kekurangan zat besi, sehingga tidak mampu memproduksi hemoglobin (Hb) yang cukup untuk mengangkut oksigen. Ini merupakan jenis anemia mikrositik hipokromik yang paling sering ditemukan.

Etiologi

Penyebab utama ADB adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan zat besi dan asupan/penyerapan zat besi, atau kehilangan zat besi yang berlebihan. Berikut adalah penyebab-penyebab umum:

  • Kehilangan Darah Kronis: Ini adalah penyebab paling sering pada orang dewasa.
    • Saluran Gastrointestinal (GI): Ulkus peptikum, gastritis erosif, esofagitis, divertikulitis, hemoroid, angiodisplasia, keganasan (kolorektal, lambung), penggunaan NSAID jangka panjang.
    • Saluran Genitourinaria: Menorrhagia (perdarahan menstruasi berat), metrorrhagia, hematuria.
    • Perdarahan Lain: Epistaksis berulang, hemoptisis, perdarahan pasca-operasi.
  • Asupan Zat Besi Tidak Adekuat: Diet vegetarian/vegan yang tidak seimbang, malnutrisi, diet rendah besi.
  • Penyerapan Zat Besi Terganggu (Malabsorpsi): Gastrektomi, penyakit Celiac, penyakit Crohn, infeksi Helicobacter pylori, penggunaan antasida/PPI jangka panjang.
  • Peningkatan Kebutuhan Zat Besi: Kehamilan, masa pertumbuhan cepat pada bayi dan anak-anak, menyusui.

Patofisiologi

Zat besi adalah komponen esensial dari heme, bagian dari hemoglobin yang bertanggung jawab mengikat oksigen. Ketika cadangan zat besi tubuh (feritin) menipis, produksi heme dan hemoglobin akan terganggu. Proses ini dapat dibagi menjadi beberapa tahap:

  1. Penipisan Cadangan Besi: Cadangan zat besi dalam tubuh (feritin) mulai berkurang. Pada tahap ini, kadar feritin serum rendah, namun kadar hemoglobin masih normal.
  2. Eritropoiesis Defisiensi Besi: Cadangan besi semakin menipis, dan pasokan besi ke sumsum tulang tidak cukup untuk eritropoiesis yang normal. Kadar feritin serum sangat rendah, saturasi transferin menurun, dan kadar protoporfirin eritrosit bebas (FEP) meningkat. Hemoglobin mungkin masih dalam batas normal atau mulai sedikit menurun.
  3. Anemia Defisiensi Besi: Pasokan besi sangat tidak cukup, menyebabkan produksi eritrosit yang mikrositik (ukuran kecil) dan hipokromik (pucat) karena kandungan hemoglobin yang rendah. Kadar hemoglobin menurun di bawah batas normal.

Manifestasi Klinis

Gejala ADB seringkali non-spesifik dan berkembang secara bertahap. Tingkat keparahan gejala berkorelasi dengan derajat anemia dan kecepatan onsetnya.

  • Gejala Umum Anemia:
    • Kelelahan, kelemahan, lesu.
    • Pucat pada konjungtiva, mukosa, dan telapak tangan.
    • Dispnea on exertion (sesak napas saat beraktivitas).
    • Palpitasi, takikardia.
    • Sakit kepala, pusing, tinitus.
  • Gejala Spesifik Defisiensi Besi:
    • Koilonychia (spoon nails): Kuku berbentuk sendok, rapuh.
    • Atrofi Papila Lidah/Glossitis Atrofik: Lidah licin, merah, nyeri.
    • Angular Stomatitis/Cheilosis: Pecah-pecah pada sudut mulut.
    • Disfagia: Sulit menelan, terutama terkait dengan sindrom Plummer-Vinson (trias disfagia, esofagus web, dan ADB).
    • Pica: Mengidam makanan non-nutritif (es, tanah liat, pati).
    • Rambut rontok, kulit kering.
    • Sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ADB ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil laboratorium.

  • Anamnesis: Mencari penyebab yang mendasari (misalnya, riwayat perdarahan, diet, penyakit kronis).
  • Pemeriksaan Fisik: Menilai pucat, koilonychia, glossitis, atau tanda-tanda penyakit lain.
  • Pemeriksaan Laboratorium: Ini adalah kunci utama.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium esensial untuk mendiagnosis ADB meliputi:

  • Darah Lengkap (DL):
    • Hemoglobin (Hb): Menurun (definisi anemia).
    • MCV (Mean Corpuscular Volume): Menurun (
  • Apusan Darah Tepi: Mikrositik, hipokromik, anisositosis, poikilositosis (bentuk sel bervariasi), sel target (tar-get cells) mungkin terlihat.
  • Panel Besi:
    • Serum Iron (SI): Menurun.
    • Total Iron Binding Capacity (TIBC): Meningkat.
    • Saturasi Transferin: Menurun (
  • Protoporfirin Eritrosit Bebas (FEP): Meningkat (jika tersedia).
  • Pemeriksaan Sumsum Tulang: Jarang diperlukan, kecuali pada kasus atipikal. Menunjukkan eritroid hiperplasia dengan cadangan besi yang tidak ada.
  • Pemeriksaan untuk Mencari Penyebab: Endoskopi GI, kolonoskopi, pemeriksaan ginekologi, tes feses untuk darah samar.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan ADB dari penyebab anemia mikrositik hipokromik lainnya. Tabel berikut merangkum perbedaannya:

ParameterAnemia Defisiensi BesiAnemia Penyakit KronisThalasemia MinorAnemia Sideroblastik
MCV< 80 fLNormal atau < 80 fL< 80 fL (sering < 70 fL)< 80 fL atau normal
Serum IronMenurunMenurunNormal atau meningkatMeningkat
TIBCMeningkatMenurunNormalNormal atau menurun
Saturasi TransferinMenurun (
Serum FerritinMenurun (
RDWMeningkatNormalNormalMeningkat
Apusan Darah TepiMikrositik, hipokromik, anisositosis, poikilositosisNormositik/mikrositik, normokromik/hipokromikMikrositik, hipokromik, banyak target cells, basophilic stipplingMikrositik/normositik, hipokromik, cincin sideroblas
Pemeriksaan KhususTidak adaPenyakit inflamasi/infeksi kronisAnalisis Hb (elektroforesis)Pewarnaan besi sumsum tulang (ring sideroblasts)

Tatalaksana

Tatalaksana ADB terdiri dari koreksi defisiensi besi dan penanganan penyebab yang mendasari.

  • Koreksi Defisiensi Besi:
    • Suplementasi Besi Oral: Ini adalah pilihan pertama.
      • Dosis: 150-200 mg besi elemental per hari pada dewasa, dibagi 2-3 dosis.
      • Preparat: Ferrous sulfate (sulfat ferosus) 325 mg mengandung 65 mg besi elemental. Ferrous gluconate atau ferrous fumarate juga bisa digunakan.
      • Pemberian: Diminum saat perut kosong (1 jam sebelum makan) untuk penyerapan optimal, namun dapat diminum bersama makanan jika menyebabkan iritasi GI. Hindari bersama teh, kopi, produk susu, atau antasida. Vitamin C dapat meningkatkan penyerapan.
      • Durasi: Dilanjutkan hingga 3-6 bulan setelah kadar Hb normal untuk mengisi kembali cadangan besi.
      • Efek Samping: Nausea, konstipasi, diare, nyeri epigastrium, feses hitam.
    • Suplementasi Besi Parenteral (IV): Indikasi jika intoleransi oral, malabsorpsi, atau kebutuhan besi sangat cepat (misal, pasien dengan gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis). Contoh: Iron sucrose, ferric carboxymaltose.
    • Transfusi Darah: Hanya untuk kasus anemia berat dengan gejala hemodinamik tidak stabil atau jika diperlukan peningkatan Hb yang cepat (misal, persiapan operasi).
  • Penanganan Penyebab yang Mendasari: Ini sangat krusial.
    • Identifikasi dan obati sumber perdarahan (misal, ulkus, polip, keganasan, menorrhagia).
    • Atasi masalah malabsorpsi (misal, penyakit Celiac).
    • Edukasi diet.

Edukasi & Pencegahan

  • Edukasi Diet: Menganjurkan konsumsi makanan kaya zat besi heme (daging merah, unggas, ikan) dan non-heme (sayuran hijau gelap, kacang-kacangan, sereal fortifikasi). Konsumsi vitamin C bersamaan dengan makanan kaya zat besi non-heme dapat meningkatkan penyerapan.
  • Pencegahan:
    • Suplementasi besi profilaksis pada kelompok risiko tinggi seperti wanita hamil, bayi prematur, dan anak-anak dengan pertumbuhan cepat.
    • Skrining dan penanganan dini sumber perdarahan kronis.
  • Kepatuhan Pengobatan: Penting untuk menekankan pasien agar patuh minum suplemen besi sesuai durasi yang ditentukan, meskipun gejala sudah membaik, untuk mengisi kembali cadangan besi.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds