Anemia aplastik adalah suatu sindrom kegagalan sumsum tulang (bone marrow failure syndrome) yang ditandai oleh pansitopenia (penurunan tiga lini sel darah: eritrosit, leukosit, dan trombosit) pada darah tepi, serta hiposelularitas sumsum tulang (penurunan selularitas) tanpa adanya infiltrasi sel abnormal atau fibrosis.
Etiologi anemia aplastik dapat dibagi menjadi:
Meskipun etiologinya beragam, patofisiologi utama anemia aplastik melibatkan kerusakan pada sel punca hematopoietik (HSC) pluripoten di sumsum tulang. Mekanisme yang paling diterima adalah:
Akibat kerusakan HSC, sumsum tulang menjadi hiposelular atau bahkan aselular, sehingga tidak mampu memproduksi sel darah yang cukup, mengakibatkan pansitopenia.
Gejala timbul akibat pansitopenia:
Hepatomegali, splenomegali, atau limfadenopati umumnya tidak ditemukan pada anemia aplastik dan harus mengarahkan pada diagnosis banding lainnya.
Diagnosis anemia aplastik ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan darah tepi, dan pemeriksaan sumsum tulang.
Kriteria Diagnosis Anemia Aplastik Berat (Severe Aplastic Anemia/SAA):
Penting untuk membedakan anemia aplastik dari kondisi lain yang juga menyebabkan pansitopenia:
| Kondisi | Gambaran Kunci Pembeda |
|---|---|
| Sindrom Mielodisplastik (MDS) | Displasia satu atau lebih lini sel darah pada sumsum tulang, seringkali hiper/normoselular, bisa ada blast <20%. |
| Leukemia Akut | Infiltrasi sumsum tulang oleh sel blast >20%. |
| Leukemia Sel Berambut (Hairy Cell Leukemia) | Sel limfoid atipikal dengan proyeksi sitoplasma seperti rambut, splenomegali. |
| Anemia Megaloblastik Berat | Makrositosis, megaloblas pada sumsum tulang, respons terhadap vitamin B12/folat. |
| Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal (PNH) | Defisiensi protein GPI-linked (CD55, CD59) pada sel darah, hemolisis intravaskular, trombosis. (Sering tumpang tindih dengan AA). |
| Hipersplenisme | Splenomegali, sumsum tulang hiperplastik. |
| Mielofibrosis | Fibrosis sumsum tulang, sel darah imatur di darah tepi, splenomegali. |
Tatalaksana anemia aplastik bertujuan untuk mengatasi pansitopenia dan mengembalikan fungsi sumsum tulang. Pilihan terapi tergantung pada usia pasien, tingkat keparahan penyakit, dan ketersediaan donor.
Komplikasi anemia aplastik meliputi:
Prognosis anemia aplastik sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan penyakit, usia pasien, dan respons terhadap terapi. Anemia aplastik berat yang tidak diobati memiliki prognosis buruk. Dengan terapi modern seperti HSCT atau IST, angka harapan hidup telah meningkat secara signifikan. Pasien yang merespons terapi dapat mencapai remisi penuh atau parsial, namun tetap memerlukan pemantauan jangka panjang.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi