Wawancara psikiatri merupakan fondasi utama dalam menilai dan mendiagnosis pasien dengan gangguan mental. Melalui anamnesis yang terstruktur dan diagnosis yang komprehensif, klinisi dapat memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Dokumen ini membahas dua komponen penting: proses anamnesis psikiatri dan sistem diagnosis multiaksial DSM-IV-TR yang memberikan kerangka kerja untuk formalisasi diagnosis.
Anamnesis psikiatri bertujuan untuk mengumpulkan informasi mendalam tentang kondisi dan riwayat psikiatrik pasien melalui wawancara langsung. Lebih dari sekadar mengumpulkan fakta, anamnesis yang baik membantu klinisi mengidentifikasi tanda-tanda psikopatologi yang mencakup penampilan fisik pasien, afek (ekspresi emosi), isi pikiran, ideasi (khususnya ideasi bunuh diri atau membahayakan orang lain), dan perilaku motorik.
Proses wawancara merupakan alat diagnostik sekaligus terapeutik. Dengan mendengarkan aktif dan menunjukkan empati, klinisi membangun kepercayaan yang memungkinkan pasien untuk membagikan informasi sensitif dengan lebih terbuka.
Mulai wawancara dengan menyapa pasien secara hangat, memperkenalkan diri Anda, dan menjelaskan tujuan sesi secara jelas. Langkah pertama ini penting untuk membangun rapport dan menenangkan kecemasan pasien.
Selanjutnya, kumpulkan identitas lengkap pasien. Data demografis yang diperlukan meliputi: nama lengkap, alamat tempat tinggal, usia, jenis kelamin, status perkawinan (lajang, menikah, cerai, atau duda/janda), tingkat pendidikan terakhir, jenis pekerjaan, bahasa utama yang digunakan, suku bangsa, dan agama. Informasi ini membantu klinisi memahami konteks sosial dan budaya pasien, yang penting untuk diagnosis dan penatalaksanaan yang sensitif secara budaya.
Tanyakan keluhan utama pasien dengan menggunakan pertanyaan terbuka seperti "Apa yang membawa Anda ke sini hari ini?" atau "Apa keluhan utama Anda?" Pertanyaan terbuka memungkinkan pasien untuk mengekspresikan masalah dengan kata-kata mereka sendiri, tanpa memandu ke arah tertentu.
Sangat penting untuk mendengarkan tanpa memotong perkataan pasien. Setelah pasien menyelesaikan narasi awal mereka, baru kemudian klinisi melengkapi kronologi menggunakan pertanyaan tertutup (pertanyaan yang meminta jawaban spesifik) untuk mengklarifikasi detail yang belum jelas, seperti kapan gejala dimulai, bagaimana gejalanya berkembang, dan apa dampak dari masalah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Gali riwayat penyakit sekarang (present illness history) secara detail. Aspek-aspek yang perlu dikaji mencakup:
Tanyakan tentang episode gangguan mental sebelumnya. Untuk setiap episode yang dilaporkan, cari tahu:
Informasi ini membantu klinisi memahami pola penyakit dan respons pasien terhadap pengobatan.
Riwayat medis yang lengkap sangat penting karena banyak kondisi medis dapat memicu atau memperburuk gangguan psikiatrik. Tanyakan tentang:
Kaji penggunaan zat secara spesifik dan tanpa menghakimi. Tanyakan tentang:
Untuk setiap zat, tanyakan usia ketika penggunaan dimulai, frekuensi penggunaan saat ini, dan dampak penggunaan terhadap fungsi dan kesejahteraan pasien.
Gali riwayat hidup pasien dari prenatal hingga dewasa ini. Bagian penting mencakup:
Riwayat hidup yang lengkap memberikan konteks penting untuk memahami pola perilaku dan faktor-faktor yang berkontribusi pada gangguan saat ini.
Selama seluruh wawancara, amati dengan seksama respons verbal dan non-verbal pasien. Perhatikan perubahan dalam intonasi suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kontak mata. Respon non-verbal ini sering kali mengungkapkan informasi yang tidak disampaikan melalui kata-kata.
Lakukan rangkuman berkala selama wawancara untuk memastikan bahwa pemahaman Anda tentang apa yang dikatakan pasien sesuai dengan apa yang dimaksudkan pasien. Misalnya, Anda bisa mengatakan, "Jadi jika saya memahami dengan benar, Anda mengatakan bahwa gejala-gejala ini dimulai tiga bulan yang lalu setelah Anda kehilangan pekerjaan. Apakah itu benar?"
Catatan atau penggunaan komputer selama sesi harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu alur dan koneksi emosional sesi. Sebelum mencatat, jelaskan kepada pasien mengapa Anda membuat catatan dan bagaimana catatan tersebut akan digunakan.
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada area sensitif, jelaskan prosedur yang akan Anda lakukan dan minta izin eksplisit dari pasien. Ini adalah bagian penting dari menghormati otonomi dan kenyamanan pasien.
Akhiri wawancara dengan memberikan rangkuman komprehensif tentang apa yang telah Anda pelajari, klarifikasi rencana penatalaksanaan berikutnya, dan pastikan bahwa pasien setuju dengan rencana tersebut dan memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.
Wawancarai anggota keluarga atau kerabat dekat untuk melengkapi informasi yang diberikan pasien, terutama dalam kasus di mana pasien memiliki insight yang terbatas atau informasi yang tidak lengkap. Keluarga juga dapat memberikan perspektif tentang perubahan perilaku dan dapat memainkan peran penting dalam rencana penatalaksanaan. Pastikan untuk menjelaskan kerahasiaan dan privasi pasien dalam konteks keterlibatan keluarga.
Sistem diagnosis multiaksial yang diperkenalkan dalam DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision) memberikan kerangka kerja komprehensif untuk menilai pasien psikiatrik. Sistem ini terdiri dari lima aksis, masing-masing menangkap aspek berbeda dari kondisi klinis dan fungsi pasien. Pendekatan multiaksial ini memastikan bahwa diagnosis tidak hanya fokus pada gejala psikiatrik saja, tetapi juga mempertimbangkan kondisi medis, faktor lingkungan, dan level fungsi pasien secara keseluruhan.
Aksis I digunakan untuk kode semua gangguan mental klinis yang dialami pasien. Ini adalah diagnosa psikiatrik utama yang paling sering menjadi alasan pasien mencari pertolongan medis.
Gangguan yang dapat dikode pada Aksis I meliputi beragam kategori:
Penting untuk dicatat bahwa seorang pasien dapat menerima lebih dari satu diagnosis pada Aksis I jika kriteria diagnostik untuk beberapa gangguan terpenuhi.
Aksis II mengkode dua kategori penting: gangguan kepribadian dan retardasi mental (sekarang disebut intellectual disability dalam klasifikasi lebih baru).
Gangguan Kepribadian adalah pola perilaku, kognitif, dan afektif yang menetap dan pervasif, yang menyimpang dari ekspektasi budaya dan menyebabkan distress atau gangguan fungsional. Gangguan kepribadian yang dapat dikode pada Aksis II mencakup:
Ciri penting dari gangguan kepribadian adalah bahwa pola-pola ini stabil seiring waktu dan biasanya dimulai pada remaja atau awal dewasa.
Retardasi Mental (atau Intellectual Disability) dikode menggunakan rentang kode F70-F79, di mana kode spesifik menunjukkan tingkat keparahan: ringan, sedang, berat, atau dalam. Intellectual disability didefinisikan sebagai kemampuan intelektual umum yang secara signifikan di bawah rata-rata (biasanya IQ di bawah 70) dengan onset sebelum usia 18 tahun dan gangguan dalam fungsi adaptif.
Pengkodean pada Aksis II penting karena gangguan kepribadian dan intellectual disability dapat mempengaruhi prognosis, respons pengobatan, dan strategi penatalaksanaan untuk gangguan Aksis I.
Aksis III mengkode kondisi medis umum (non-psikiatrik) yang relevan secara klinis. Tujuan Aksis III adalah mengidentifikasi kondisi medis yang dapat:
Kondisi medis yang dapat dikode meliputi:
Pengkodean yang akurat pada Aksis III sangat penting karena membantu klinisi menghindari atribusi keliru gejala psikiatrik semata-mata pada gangguan mental, padahal sebenarnya ada penyebab medis yang mendasari.
Aksis IV digunakan untuk mencatat masalah psikososial dan lingkungan yang berkontribusi pada perkembangan, eksaserbasi, atau pemeliharaan gangguan pada Aksis I. Aksis ini mengakui bahwa gangguan mental tidak terjadi dalam vakum, tetapi dalam konteks sosial dan lingkungan yang kompleks.
Masalah yang dapat dikode pada Aksis IV mencakup:
Dengan mendokumentasikan masalah pada Aksis IV, klinisi dapat mengembangkan rencana penatalaksanaan yang mengatasi tidak hanya gejala mental tetapi juga faktor-faktor lingkungan dan sosial yang berkontribusi pada gangguan tersebut.
Aksis V menggunakan skala Global Assessment of Functioning (GAF) untuk menilai level keseluruhan fungsi psikologis, sosial, dan okupasional pasien selama periode waktu tertentu (biasanya minggu sebelumnya atau tahun lalu).
Skala GAF berkisar dari 0 hingga 100, dengan nilai yang lebih tinggi menunjukkan fungsi yang lebih baik dan nilai yang lebih rendah menunjukkan gangguan yang lebih parah. Berikut adalah interpretasi umum dari rentang nilai GAF:
Penting untuk dicatat bahwa GAF adalah alat penilaian subjektif, dan berbagai klinisi mungkin memberikan skor yang berbeda untuk pasien yang sama. Namun, skala ini tetap berguna untuk melacak perubahan fungsi pasien seiring waktu dan untuk komunikasi antara profesional kesehatan.
Dalam praktik klinis, proses anamnesis psikiatri yang teliti menyediakan informasi yang diperlukan untuk mengisi kelima aksis dari sistem diagnosis multiaksial. Data yang dikumpulkan selama wawancaraâtentang gejala, riwayat, kondisi medis, situasi sosial, dan fungsi pasienâsemuanya berkontribusi pada formulasi diagnosis multiaksial yang komprehensif. Diagnosis yang akurat dan komprehensif ini, pada gilirannya, membentuk dasar untuk rencana penatalaksanaan yang efektif dan pengobatan yang responsif terhadap kebutuhan spesifik pasien.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi