Abses Leher Dalam

Abses leher dalam adalah kondisi gawat darurat yang seringkali terlewatkan padahal dapat mengancam nyawa! Infeksi bakteri pada ruang potensial di leher ini bisa menyebar cepat ke struktur vital seperti jalan napas dan mediastinum. Mahasiswa kedokteran wajib paham betul anatomi, manifestasi klinis, dan tatalaksananya untuk UKMPPD dan praktik klinis nanti. Yuk, kita bedah tuntas konsep pentingnya!

Definisi

Abses leher dalam adalah infeksi bakteri supuratif (bernanah) akut yang terjadi pada salah satu atau beberapa ruang potensial di leher, yang dibatasi oleh fasia servikalis.

Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis karena dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, sepsis, dan komplikasi fatal lainnya.

Etiologi

Penyebab abses leher dalam umumnya berasal dari infeksi di area kepala dan leher yang menyebar. Beberapa penyebab tersering meliputi:

  • Infeksi odontogenik: Karies gigi, periodontitis, atau infeksi pasca-ekstraksi gigi yang tidak tertangani.
  • Infeksi tonsil dan faring: Tonsilitis akut, peritonsilitis, faringitis.
  • Infeksi kelenjar ludah: Sialadenitis, terutama kelenjar submandibula atau parotis.
  • Trauma: Luka tusuk, benda asing, atau komplikasi prosedur medis (misalnya, endoskopi).
  • Limfadenitis supuratif: Pembengkakan kelenjar getah bening yang terinfeksi dan bernanah.

Bakteri penyebab umumnya polimikroba, sering melibatkan bakteri aerob (misalnya Streptococcus spp., Staphylococcus aureus) dan anaerob (misalnya Bacteroides spp., Peptostreptococcus spp.).

Anatomi Penting Ruang Leher Dalam

Pemahaman anatomi ruang leher dalam sangat penting karena menentukan arah penyebaran infeksi dan manifestasi klinis. Ruang-ruang utama meliputi:

  • Ruang Peritonsil: Antara kapsul tonsil dan muskulus konstriktor faring superior.
  • Ruang Parafaring (Faringomaksila): Lateral dari faring, membentang dari dasar tengkorak hingga os hyoid.
  • Ruang Retrofaring: Posterior dari faring, anterior dari fasia prevertebra.
  • Ruang Prevertebra: Posterior dari fasia prevertebra, anterior dari korpus vertebra.
  • Ruang Submandibula: Terletak di dasar mulut, di atas os hyoid, sering terlibat dalam Ludwig's Angina.
  • Ruang Submental: Anterior dari ruang submandibula.

Patofisiologi

Abses leher dalam dimulai ketika infeksi dari fokus primer (misalnya gigi, tonsil) menyebar ke ruang potensial di leher. Penyebaran ini difasilitasi oleh struktur fasia servikalis yang membentuk batas-batas ruang tersebut.

  • Invasi Bakteri: Mikroorganisme menginvasi jaringan lunak leher.
  • Respon Inflamasi: Tubuh merespons dengan inflamasi, menyebabkan edema dan pembentukan nanah (pus).
  • Pembentukan Abses: Pus terkumpul dalam ruang fasial tertentu, membentuk abses.
  • Penyebaran: Jika tidak ditangani, abses dapat meluas ke ruang fasial lain yang berdekatan atau bahkan ke mediastinum (mediastinitis), rongga intrakranial, atau menyebabkan erosi pembuluh darah besar.

Manifestasi Klinis

Gejala bervariasi tergantung lokasi abses, namun beberapa gejala umum meliputi:

  • Demam tinggi dan menggigil.
  • Nyeri leher yang hebat.
  • Malaise dan kelemahan.
  • Pembengkakan pada leher atau dasar mulut.

Gejala spesifik berdasarkan lokasi abses:

Lokasi AbsesManifestasi Khas
PeritonsilOdinofagia berat, disfagia, trismus, uvula terdorong ke sisi kontralateral, 'hot potato voice'.
RetrofaringDisfagia, odinofagia, stridor (tanda obstruksi jalan napas), tortikolis, nyeri saat menelan, pembengkakan di dinding faring posterior.
ParafaringTrismus (paling khas), pembengkakan sudut mandibula, disfagia, nyeri leher lateral, deviasi uvula.
Submandibula (Ludwig's Angina)Pembengkakan dan indurasi dasar mulut bilateral, elevasi lidah, drooling, nyeri, stridor (tanda kegawatan jalan napas).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis: Riwayat infeksi gigi/tenggorokan, trauma, atau prosedur medis sebelumnya.
  • Pemeriksaan Fisik: Evaluasi jalan napas (stridor, disfonia), palpasi leher (pembengkakan, nyeri tekan, fluktuasi, krepitasi), inspeksi orofaring (uvula deviasi, pembengkakan dinding faring).
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Laboratorium: Leukositosis (peningkatan sel darah putih), peningkatan CRP (C-Reactive Protein) dan ESR (Laju Endap Darah) menunjukkan adanya infeksi dan inflamasi.
    • Pencitraan:
      • CT scan leher dengan kontras: Merupakan gold standard untuk diagnosis. Dapat mengidentifikasi lokasi, ukuran, perluasan abses, dan hubungannya dengan struktur vital. Tampak lesi hipodens dengan rim enhancement.
      • Rontgen leher lateral: Dapat menunjukkan pelebaran ruang retrofaringeal pada abses retrofaring.
    • Aspirasi Jarum: Jika memungkinkan dan aman, aspirasi abses dapat mengonfirmasi adanya pus dan untuk kultur bakteri.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi lain dapat menyerupai abses leher dalam:

  • Selulitis leher: Infeksi jaringan lunak tanpa pembentukan abses yang terlokalisir. Sulit dibedakan secara klinis, CT scan sangat membantu.
  • Limfadenitis servikal: Pembesaran kelenjar getah bening yang meradang, bisa supuratif.
  • Kista duktus tiroglosus terinfeksi atau kista brankial terinfeksi.
  • Tumor leher: Massa kistik atau solid yang terinfeksi.

Tatalaksana

Tatalaksana abses leher dalam merupakan kegawatdaruratan dan memerlukan pendekatan multidisiplin.

Manajemen Airway (Jalan Napas)

  • Prioritas utama adalah memastikan patensi jalan napas.
  • Jika ada tanda-tanda obstruksi jalan napas (stridor, sesak napas progresif), segera lakukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi.

Farmakologis

  • Antibiotik Intravena Spektrum Luas: Segera diberikan setelah kultur darah dan/atau pus diambil. Pilihan antibiotik harus mencakup bakteri aerob dan anaerob.
  • Contoh kombinasi: Klindamisin (baik untuk anaerob) + Sefalosporin generasi ketiga (misalnya Sefotaksim atau Seftriakson) atau Piperasilin-Tazobaktam.
  • Durasi pemberian antibiotik disesuaikan dengan respons klinis, biasanya 2-3 minggu atau lebih.

Non-Farmakologis & Bedah

  • Drainase Bedah: Merupakan pilar utama tatalaksana abses leher dalam yang terkonfirmasi. Dilakukan insisi dan drainase abses untuk mengeluarkan nanah dan mengurangi tekanan.
  • Observasi ketat: Pasien harus dimonitor di ICU atau ruang rawat intensif, terutama untuk tanda-tanda obstruksi jalan napas atau sepsis.

Komplikasi

Abses leher dalam dapat menyebabkan komplikasi serius dan mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat:

  • Obstruksi jalan napas: Akibat penekanan trakea atau laring oleh abses.
  • Mediastinitis: Penyebaran infeksi ke mediastinum, merupakan komplikasi yang sangat fatal.
  • Trombosis vena jugularis interna (Lemierre's Syndrome): Terutama dari abses parafaring, dapat menyebabkan emboli septik.
  • Ruptur arteri karotis: Erosi dinding arteri karotis oleh abses, menyebabkan perdarahan masif.
  • Sepsis dan syok septik.
  • Osteomielitis: Infeksi tulang di sekitarnya.

Prognosis

Prognosis abses leher dalam umumnya baik jika diagnosis ditegakkan secara dini dan tatalaksana yang tepat (terutama drainase bedah dan antibiotik IV) segera diberikan.

Namun, mortalitas dapat meningkat secara signifikan jika terjadi komplikasi serius seperti obstruksi jalan napas, mediastinitis, atau sepsis yang terlambat ditangani.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds