Ablasio Retina

Ablasio retina adalah kegawatdaruratan oftalmologi yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah kebutaan permanen. Kondisi ini seringkali luput dari perhatian hingga gejala memburuk. Sebagai calon dokter, pemahaman mendalam tentang jenis, gejala, dan tatalaksana ablasio retina sangat esensial, tidak hanya untuk UKMPPD, tetapi juga dalam praktik klinis sehari-hari. Yuk, kuasai konsep penting ini!

Definisi

Ablasio retina adalah kondisi terpisahnya neurosensori retina dari lapisan epitel pigmen retina (RPE) di bawahnya. Pemisahan ini menyebabkan gangguan suplai nutrisi ke fotoreseptor, yang bila tidak ditangani segera dapat menyebabkan kerusakan retina permanen dan kebutaan.

Klasifikasi

Ablasio retina diklasifikasikan berdasarkan mekanisme penyebabnya:

TipeMekanisme UtamaKarakteristik KunciPenyebab Umum
Rhegmatogenous (AR)Retak atau robekan pada retina neurosensori memungkinkan cairan vitreus masuk ke ruang subretina.
  • Adanya robekan retina (tear/break).
  • Cairan vitreus masuk ke ruang subretina.
  • Retina terlihat bergelombang, dengan permukaan yang tidak rata.
  • Posterior Vitreous Detachment (PVD)
  • Trauma okular
  • Miopia tinggi
  • Riwayat operasi katarak
Traksional (AT)Tarikan fibrovaskular pada permukaan retina yang menarik retina menjauh dari RPE.
  • Tidak ada robekan retina primer.
  • Retina terangkat akibat tarikan jaringan fibrovaskular.
  • Seringkali cekung, dengan puncak tarikan.
  • Retinopati diabetik proliferatif
  • Retinopati prematuritas (ROP)
  • Trauma tembus bola mata
Eksudatif/Serosa (AE)Akumulasi cairan di ruang subretina akibat kerusakan sawar darah-retina, tanpa robekan atau tarikan.
  • Tidak ada robekan atau tarikan retina.
  • Cairan subretina berasal dari kebocoran vaskular.
  • Retina terlihat halus, terangkat, seringkali bergeser dengan perubahan posisi kepala.
  • Uveitis posterior
  • Tumor intraokular (mis. melanoma koroid)
  • Preeklampsia/eklampsia
  • Penyakit Coats

Etiologi & Faktor Risiko

Penyebab ablasio retina bervariasi tergantung jenisnya:

  • Rhegmatogenous: PVD, trauma tumpul okular, miopia tinggi, afakia/pseudofakia (pasca operasi katarak), riwayat ablasio retina di mata kontralateral, riwayat keluarga.
  • Traksional: Retinopati diabetik proliferatif, retinopati prematuritas, trauma tembus, sickle cell retinopathy.
  • Eksudatif: Uveitis posterior (misalnya sindrom Vogt-Koyanagi-Harada), tumor intraokular (misalnya melanoma koroid, hemangioma), eklampsia/preeklampsia, penyakit Coats, papiledema berat.

Patofisiologi

Pada ablasio retina rhegmatogenous, robekan atau retak pada retina neurosensori memungkinkan cairan vitreus yang telah mengalami likuefaksi (sineresis vitreus) masuk melalui defek tersebut ke ruang subretina, memisahkan retina dari RPE.

Pada ablasio retina traksional, jaringan fibrovaskular abnormal yang tumbuh di permukaan retina (sering pada kondisi iskemik) berkontraksi, menarik retina dan memisahkannya dari RPE.

Pada ablasio retina eksudatif, terjadi kerusakan pada sawar darah-retina (misalnya akibat inflamasi atau tumor), menyebabkan kebocoran cairan dari pembuluh darah koroid ke ruang subretina tanpa adanya robekan atau tarikan.

Manifestasi Klinis

Gejala ablasio retina seringkali muncul mendadak dan progresif:

  • Fotopsia: Kilatan cahaya yang muncul tiba-tiba, terutama pada lapang pandang perifer.
  • Floater: Munculnya bintik-bintik hitam, jaring laba-laba, atau "hujan jelaga" yang bergerak di lapang pandang. Ini sering menandakan perdarahan vitreus atau PVD.
  • Penurunan lapang pandang: Pasien merasa ada "tirai" atau "bayangan" hitam yang menutupi sebagian penglihatan, biasanya dimulai dari perifer dan meluas ke sentral.
  • Penurunan visus: Terjadi jika makula ikut terangkat (macula-on) atau telah terangkat (macula-off). Ini merupakan indikasi kegawatdaruratan yang lebih tinggi.
  • Tidak nyeri.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang:

  • Anamnesis: Menanyakan gejala khas seperti fotopsia, floater, dan tirai hitam. Riwayat trauma, miopia tinggi, atau operasi mata sebelumnya.
  • Pemeriksaan Visus: Penurunan visus bervariasi tergantung keterlibatan makula.
  • Pemeriksaan Funduskopi: Ini adalah pemeriksaan kunci. Setelah dilatasi pupil maksimal, funduskopi direk atau indirek akan menunjukkan retina yang terangkat, bergelombang, atau cekung. Robekan retina mungkin terlihat sebagai daerah merah terang pada ablasio rhegmatogenous.
  • USG B-scan: Dilakukan jika media refraksi keruh (misalnya katarak padat atau perdarahan vitreus) sehingga funduskopi tidak dapat dilakukan.

Tatalaksana

Ablasio retina adalah kegawatdaruratan oftalmologi yang memerlukan intervensi bedah segera. Tujuan tatalaksana adalah menutup robekan retina dan menempelkan kembali retina ke RPE.

Prinsip Umum:

  • Rhegmatogenous: Menutup robekan retina dan menghilangkan traksi vitreus.
  • Traksional: Melepaskan traksi vitreus yang menarik retina.
  • Eksudatif: Mengatasi penyakit dasar yang menyebabkan kebocoran cairan.

Metode Bedah:

  • Scleral Buckling (SB): Menempelkan pita silikon di sekitar sklera untuk mendorong RPE dan koroid ke arah retina, menutup robekan, dan mengurangi traksi vitreus.
  • Vitrectomy: Mengangkat vitreus, menutup robekan retina dengan laser atau kriopeksi, dan mengisi rongga vitreus dengan gas atau minyak silikon untuk menekan retina. Ini sering dilakukan untuk ablasio kompleks atau traksional.
  • Pneumatic Retinopexy: Injeksi gelembung gas ke dalam rongga vitreus, diikuti dengan posisi kepala tertentu dan laser/kriopeksi untuk menutup robekan. Cocok untuk ablasio kecil dan robekan tunggal di superior.
  • Drainase cairan subretina: Mungkin dilakukan pada ablasio eksudatif atau sebagai bagian dari vitrectomy/SB.
  • Medikamentosa: Pada ablasio eksudatif, tatalaksana penyakit dasar (misalnya kortikosteroid untuk uveitis, kemoterapi/radioterapi untuk tumor) adalah kunci.

Komplikasi & Prognosis

Komplikasi ablasio retina yang tidak ditangani adalah kebutaan permanen pada mata yang terkena.

Komplikasi pasca-operasi meliputi:

  • Proliferative Vitreoretinopathy (PVR): Pembentukan jaringan parut yang dapat menyebabkan ablasio berulang.
  • Perdarahan.
  • Infeksi (endoftalmitis).
  • Katarak.
  • Glaucoma.

Prognosis visual sangat bergantung pada:

  • Keterlibatan makula (macula-on vs macula-off). Ablasio dengan makula masih utuh memiliki prognosis lebih baik.
  • Durasi ablasio. Penanganan cepat meningkatkan peluang keberhasilan.
  • Jenis ablasio dan ada tidaknya PVR.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi:

  • Mengenali gejala awal ablasio retina (fotopsia, floater, tirai hitam) dan segera mencari pertolongan medis.
  • Pemeriksaan mata rutin bagi individu dengan faktor risiko (miopia tinggi, riwayat keluarga, pasca operasi katarak).
  • Penggunaan pelindung mata saat beraktivitas berisiko trauma.
  • Kontrol penyakit sistemik (mis. diabetes) untuk mencegah retinopati diabetik proliferatif.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds